Tag: kesehatan anjing

pexels-photo-1909802

Penyebab Tumor Mamae pada Anabul Karena Tidak Steril?

Hai para pecinta hewan! Kali ini kita bakal ngomongin sesuatu yang agak serius tapi penting banget buat kita semua yang punya anjing atau kucing di rumah yaitu tumor mamae. Tahu nggak sih tumor mamae ini bisa terjadi pada anjing dan kucing? Penanganannya bisa mempengaruhi kualitas hidup hewan kesayangan kita. Yuk, kita bahas lebih dalam tentang tumor mamae pada anjing dan kucing!

Apa Itu Tumor Mamae?

Tumor mamae, atau yang lebih dikenal dengan istilah tumor payudara, adalah pertumbuhan abnormal pada kelenjar susu hewan peliharaan kita. Kelenjar susu ini, meski nggak sebanyak pada manusia, tetap ada dan bisa jadi tempat munculnya tumor. Tumor ini bisa bersifat jinak (non-kanker) atau ganas (kanker), dan kadang-kadang kita nggak sadar kalau hewan peliharaan kita mengalaminya karena gejalanya bisa muncul secara perlahan.

Gejala Tumor Mamae

Nah, bagaimana sih cara kita tahu kalau anjing atau kucing kita mungkin mengalami tumor mamae? Beberapa gejala yang perlu diperhatikan meliputi:

  1. Benjolan di Bagian Perut atau Payudara: Salah satu tanda paling umum adalah adanya benjolan di sekitar area payudara. Benjolan ini bisa terasa keras atau lunak, dan ukurannya bisa bervariasi.
  2. Perubahan pada Kulit: Kulit di sekitar benjolan bisa tampak merah, bengkak, atau bahkan mengelupas. Kadang-kadang ada juga luka yang nggak sembuh-sembuh.
  3. Perubahan Nafsu Makan atau Berat Badan: Meskipun ini bukan tanda langsung, hewan yang mengalami masalah kesehatan sering kali menunjukkan penurunan nafsu makan atau perubahan berat badan yang signifikan.
  4. Kesulitan Bergerak atau Nyeri: Jika tumor sudah cukup besar atau menekan bagian tubuh lainnya, hewan peliharaan kita mungkin menunjukkan tanda-tanda kesulitan bergerak atau nyeri.

Penyebab dan Faktor Risiko

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya tumor mamae pada anjing dan kucing:

  1. Jenis Kelamin: Pada anjing betina, risiko tumor mamae jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jantan. Sementara itu, pada kucing, tumor ini bisa terjadi pada keduanya, tapi lebih sering pada kucing betina.
  2. Usia: Tumor mamae umumnya lebih sering muncul pada hewan peliharaan yang lebih tua. Namun, beberapa kasus juga bisa muncul pada usia muda.
  3. Kesehatan Reproduksi: Hewan peliharaan yang tidak pernah dioperasi steril (spayed/neutered) lebih berisiko terkena tumor mamae. Pada anjing dan kucing, sterilasi sebelum siklus pertama datang bisa menurunkan risiko terjadinya tumor ini.

Diagnosa dan Pengobatan

Jika kamu menemukan benjolan atau tanda-tanda lain yang mencurigakan pada hewan peliharaanmu, hal pertama yang harus dilakukan adalah bawa mereka ke dokter hewan. Dokter hewan akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin akan merekomendasikan beberapa tes tambahan, seperti:

  1. Biopsi: Pengambilan sampel jaringan dari benjolan untuk diuji di laboratorium. Ini untuk menentukan apakah tumor bersifat jinak atau ganas.
  2. Pemeriksaan Radiologi: Seperti rontgen atau ultrasound, untuk mengetahui apakah tumor telah menyebar ke bagian tubuh lainnya.
  3. Tes Darah: Untuk mengecek kondisi umum kesehatan hewan peliharaanmu sebelum operasi atau pengobatan.

Pengobatan untuk tumor mamae tergantung pada beberapa faktor, termasuk jenis dan ukuran tumor, serta sejauh mana penyebarannya. Pilihan pengobatan bisa meliputi:

  1. Operasi: Jika tumor bisa dioperasi, dokter hewan biasanya akan merekomendasikan operasi untuk mengangkat tumor tersebut. Kadang-kadang, perlu dilakukan juga pengangkatan kelenjar susu yang terkena tumor.
  2. Kemoterapi atau Radiasi: Untuk tumor yang sudah ganas atau sudah menyebar, mungkin diperlukan kemoterapi atau terapi radiasi untuk membantu membunuh sel-sel kanker.
  3. Perawatan Paliatif: Untuk kasus yang sudah terlalu lanjut, perawatan lebih fokus pada kenyamanan hewan peliharaan dan mengurangi rasa sakit.

Pencegahan dan Perawatan

Cara terbaik untuk mencegah tumor mamae adalah dengan melakukan sterilasi pada usia dini, serta melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dengan dokter hewan terdekat yang bisa dihubungi melalui call center Pet Care. Pet Care akan langsung mencarikan dokter hewan terdekat dari lokasi Anda.  

Mereka akan memberikan saran yang paling sesuai berdasarkan kondisi kucing dan memberikan rekomendasi yang tepat untuk jadwal sterilisasi.

Nah, itu dia informasi penting tentang tumor mamae pada anjing dan kucing. Selalu ingat untuk memantau kesehatan hewan peliharaanmu secara berkala dan segera konsultasikan ke dokter hewan jika ada tanda-tanda yang mencurigakan.

Dengan perhatian dan perawatan yang tepat, kita bisa membantu hewan kesayangan kita tetap sehat dan bahagia. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan ragu untuk bertanya lebih lanjut jika ada yang kurang jelas!

pexels-photo-1721222

Penyebab Kulit Anjing Merah dan Gatal

Halo, para pecinta anjing! Apakah kalian pernah melihat anjing kesayangan tiba-tiba menggaruk-garuk tubuhnya dengan heboh, atau mungkin kulit tampak merah?

Hmm, ini bisa jadi tanda ada sesuatu yang tidak beres dengan kulit si fur-baby kita. Kulit yang memerah pada anjing bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari alergi hingga infeksi. Mari kita bahas penyebabnya dan cara mengatasi masalah ini dengan bahasa yang santai dan mudah dipahami!

1. Alergi

Alergi adalah salah satu penyebab utama kulit anjing merah. Biasanya alergi pada anjing bisa dipicu oleh banyak hal, seperti makanan, lingkungan, atau produk perawatan yang digunakan. Jika anjing kita alergi terhadap sesuatu, tubuhnya akan bereaksi dengan cara mengeluarkan histamin yang menyebabkan gatal dan peradangan pada kulit.

Contohnya, makanan seperti gandum, ayam, atau produk susu bisa memicu reaksi alergi pada beberapa anjing. Atau, mungkin anjing kita alergi terhadap debu, serbuk sari, atau bahkan kutu yang bisa menyebabkan kulitnya memerah dan gatal.

2. Kutu dan Parasit

Kutu dan parasit lainnya, seperti tungau atau caplak, bisa menjadi penyebab utama kulit anjing merah. Mereka tidak hanya menyebabkan rasa gatal yang mengganggu, tapi juga bisa membawa infeksi yang memperburuk kondisi kulit. Jika kita melihat anjing sering menggaruk, menggigit, atau menjilat area tertentu di tubuhnya, ini bisa jadi tanda ada kutu atau parasit lainnya.

Kutu seringkali bersembunyi di tempat-tempat seperti belakang telinga, leher, atau bagian belakang tubuh anjing. Infeksi kutu bisa membuat kulit anjing iritasi, memerah, dan bahkan bisa menyebabkan kerontokan bulu.

3. Infeksi Kulit

Infeksi kulit juga bisa menyebabkan kulit anjing merah. Infeksi ini bisa disebabkan oleh bakteri atau jamur, yang sering kali muncul ketika ada luka kecil atau goresan pada kulit anjing. Jika luka tersebut tidak segera diobati, bakteri atau jamur bisa berkembang biak dan menyebabkan infeksi.

Infeksi bakteri biasanya ditandai dengan adanya nanah atau bau tidak sedap, sedangkan infeksi jamur sering menyebabkan kulit terlihat merah, bersisik, dan gatal. Anjing dengan infeksi kulit biasanya akan merasa sangat tidak nyaman dan terus-menerus menggaruk atau menjilat area yang terkena.

4. Iritasi dari Produk Perawatan

Tidak semua produk perawatan cocok untuk semua anjing. Beberapa anjing mungkin memiliki kulit yang lebih sensitif terhadap produk tertentu, seperti sampo atau sabun. Jika kita baru saja mengganti produk perawatan dan melihat kulit anjing memerah atau mereka tampak tidak nyaman, ada kemungkinan produk tersebut menyebabkan iritasi.

Bahan kimia keras atau pewangi dalam produk perawatan bisa menjadi penyebab kulit anjing menjadi iritasi. Jadi, pastikan kita selalu menggunakan produk yang dirancang khusus untuk anjing, yang biasanya memiliki formula lebih lembut.

Cara Mengatasi Kulit Memerah pada Anjing

Setelah mengetahui beberapa penyebab kulit memerah pada anjing, langkah berikutnya adalah mencari cara untuk mengatasinya. Berikut beberapa tips yang bisa membantu:

  1. Ganti Makanan: Jika alergi makanan dicurigai sebagai penyebab, dokter hewan mungkin akan merekomendasikan diet eliminasi untuk mengidentifikasi alergen. Cobalah untuk memberikan makanan hypoallergenic yang lebih aman untuk anjing dengan alergi.
  2. Pengobatan Kutu dan Parasit: Jika kutu atau parasit lain adalah penyebabnya, dokter hewan akan meresepkan obat kutu atau pengobatan lainnya. Pastikan kita juga membersihkan lingkungan tempat tinggal anjing untuk menghilangkan kutu yang mungkin masih ada.
  3. Gunakan Produk Perawatan yang Lembut: Jika produk perawatan menyebabkan iritasi, beralihlah ke produk yang lebih lembut dan dirancang khusus untuk kulit sensitif. Kita juga bisa menggunakan sampo oatmeal atau sampo khusus untuk kulit sensitif yang bisa membantu menenangkan iritasi.
  4. Jaga Kebersihan dan Kelembapan Kulit: Mandikan anjing secara teratur dengan produk yang tepat, dan pastikan kulit mereka tetap kering dan bersih. Kelembapan berlebih bisa menyebabkan masalah kulit lainnya, seperti infeksi jamur.
  5. Konsultasikan dengan Dokter Hewan: Jika kita melihat kulit anjing memerah, langkah pertama adalah membawa mereka ke  dokter hewan terdekat melalui  Call Center Pet Care untuk melakukan pemeriksaan. Dokter hewan bisa membantu menentukan penyebab pasti dan memberikan perawatan yang tepat.

Kulit memerah pada anjing bisa menjadi tanda ada masalah yang perlu segera diatasi. Dengan mengetahui penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya, kita bisa membantu anjing kita merasa lebih nyaman dan sehat. Ingat, selalu konsultasikan dengan dokter hewan untuk mendapatkan saran terbaik dan perawatan yang tepat. Jadi, jika anjing kita mulai menggaruk-garuk tak terkendali, yuk segera periksa dan berikan perawatan yang dibutuhkan!

pexels-photo-8434769

Slow Feeder Cegah Obesitas pada Anjing

Pernahkah Anda mendengar tentang slow feeder? Bagi pecinta anjing, ini adalah salah satu alat yang sangat berguna untuk membantu anjing makan lebih lambat. Ternyata Slow Feeder bisa mencegah obesitas pada anjing. Yuk, simak pembahasannya!

Apa Itu Slow Feeder?

Slow feeder adalah mangkuk makan khusus yang dirancang untuk memperlambat proses makan anjing.
Mangkuk ini memiliki desain yang unik, seperti adanya sekat, tonjolan, atau labirin, sehingga anjing harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan makanannya. Ada berbagai bentuk dan ukuran, dari yang berbentuk spiral, maze, hingga yang memiliki berbagai rintangan kecil di dalamnya.

Kenapa Anjing Makan Terlalu Cepat?

Beberapa anjing cenderung makan dengan sangat cepat, terutama jika mereka merasa sangat lapar atau terbiasa bersaing dengan hewan peliharaan lain. Makan terlalu cepat bisa menyebabkan beberapa masalah kesehatan, seperti tersedak, muntah, hingga perut kembung yang bisa berujung pada kondisi serius seperti dilatasi lambung (bloat). Selain itu, makan terlalu cepat juga bisa menyebabkan obesitas karena anjing tidak memberikan waktu pada tubuhnya untuk merasakan kenyang.

Obesitas pada Anjing: Masalah yang Serius

Sama seperti pada manusia, obesitas pada anjing bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Obesitas meningkatkan risiko anjing terkena diabetes, penyakit jantung, masalah sendi, dan bahkan bisa memperpendek usia mereka. Anjing yang kelebihan berat badan cenderung kurang aktif, mudah lelah, dan bisa mengalami masalah pernapasan. Oleh karena itu, menjaga berat badan anjing dalam batas normal sangat penting untuk kesehatan dan kualitas hidup mereka.

Manfaat Slow Feeder dalam Mencegah Obesitas

  1. Mengurangi Kecepatan Makan: Salah satu manfaat utama adalah mengurangi kecepatan makan anjing. Dengan berusaha lebih keras untuk mendapatkan makanan dari slow feeder, anjing Anda akan makan lebih lambat. Hal ini memberikan waktu pada perut dan otak untuk menyadari bahwa mereka sudah kenyang, sehingga mereka akan makan dengan porsi yang lebih wajar.
  2. Mengurangi Risiko Tersedak dan Masalah Pencernaan: Ketika anjing makan terlalu cepat, mereka cenderung menelan banyak udara bersama dengan makanannya, yang bisa menyebabkan masalah pencernaan. Slow feeder membantu mengurangi risiko ini dengan memperlambat proses makan.
  3. Membantu Mengontrol Berat Badan: Dengan makan lebih lambat, anjing cenderung mengonsumsi lebih sedikit makanan. Ini membantu mencegah penambahan berat badan yang berlebihan. Selain itu, dapat digunakan untuk memberikan porsi makan yang lebih terkontrol, sehingga memudahkan pemilik anjing dalam mengelola asupan kalori hewan peliharaan mereka.
  4. Stimulasi Mental: Mangkuk ini tidak hanya baik untuk kesehatan fisik anjing, tetapi juga memberikan stimulasi mental. Dengan desain yang menantang, mangkuk ini membuat anjing berpikir lebih banyak untuk mendapatkan makanannya. Ini sangat baik untuk anjing yang aktif dan membutuhkan lebih banyak aktivitas mental untuk tetap terstimulasi.
  5. Mengurangi Perilaku Merusak: Anjing yang cepat bosan atau terlalu bersemangat sering kali menunjukkan perilaku merusak, seperti menggigit barang-barang di rumah. Dengan menggunakan slow feeder, anjing akan lebih sibuk dan terhibur saat makan, sehingga mengurangi perilaku merusak tersebut.

Tips Menggunakan Slow Feeder

  • Pilih yang Sesuai Ukuran Anjing: Pastikan Anda memilih slow feeder yang sesuai dengan ukuran dan kebutuhan anjing Anda. Ukuran yang terlalu besar atau terlalu kecil bisa tidak efektif atau bahkan membahayakan.
  • Awasi Saat Makan: Meskipun aman digunakan, tetap awasi anjing Anda saat makan. Beberapa anjing mungkin merasa frustrasi dengan slow feeder pada awalnya, jadi pastikan mereka tetap nyaman dan tidak terlalu stres.
  • Kombinasikan dengan Makanan Sehat: Sebaiknya kombinasikan dengan pemberian makanan yang sehat dan seimbang. Konsultasikan dengan dokter hewan untuk mendapatkan saran tentang makanan yang tepat untuk anjing Anda.
  • Perkenalkan Secara Bertahap: Jika anjing Anda belum pernah menggunakannya, perkenalkan secara bertahap. Mulailah dengan menaruh sedikit makanan di dalam slow feeder dan biarkan anjing Anda beradaptasi.

Dengan berbagai manfaatnya, slow feeder adalah alat yang sangat berguna untuk menjaga kesehatan anjing, terutama dalam mencegah obesitas. Selain membantu mengontrol porsi makan, mangkuk ini juga memberikan stimulasi mental dan membantu mengurangi risiko masalah pencernaan.

Sebagai pecinta anjing, memastikan kesehatan mereka adalah prioritas utama. Jangan ragu kolsultasi ke dokter hewan terdekat melalui layanan Pet Care. Cukup hubungi  call center Pet Care. Layanan ini akan membantu Anda menemukan dokter hewan terdekat dari lokasi. 

Jadi, jika Anda ingin anjing Anda tetap sehat dan bahagia, pertimbangkan untuk menggunakan slow feeder dalam rutinitas makan mereka!

pexels-photo-6235231

Bahaya Asites Cairan pada Perut Anjing

Hai, pecinta anjing! Pernahkah kamu mendengar istilah “asites” pada anjing? Asites, atau dikenal juga sebagai “cairan perut,” adalah kondisi medis di mana terdapat penumpukan cairan yang tidak normal di dalam rongga perut. Kondisi ini bisa terjadi pada anjing dari berbagai ras dan usia, jadi penting bagi kita untuk mengetahuinya lebih lanjut. Yuk, kita bahas asites pada anjing dengan bahasa santai dan mudah dipahami!

Apa Itu Asites?

Asites adalah penumpukan cairan di rongga perut anjing yang membuat perutnya terlihat buncit. Ini bukan hanya masalah estetika, tapi juga bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius. Cairan ini bisa berupa serum, darah, atau getah bening, dan jumlahnya bisa bervariasi dari sedikit hingga sangat banyak. Jadi, kalau kamu melihat anjingmu tiba-tiba perutnya membesar, ini bisa jadi tanda adanya penyakit serius ini .

Gejala Asites pada Anjing

Gejala utamanya adalah perut yang terlihat buncit atau membesar. Namun, ada juga beberapa gejala lain yang perlu diperhatikan, seperti:

  1. Kesulitan bernapas: Cairan yang menumpuk bisa menekan diafragma dan paru-paru, membuat anjing sulit bernapas.
  2. Penurunan nafsu makan: Anjing yang mengalami asites mungkin akan merasa tidak nyaman atau mual, sehingga nafsu makannya menurun.
  3. Lemas dan lesu: Karena tubuh anjing harus bekerja lebih keras untuk menyesuaikan diri dengan penumpukan cairan, mereka bisa terlihat lemas dan kurang energi.
  4. Penurunan berat badan: Meski perut terlihat membesar, anjing bisa kehilangan berat badan karena nafsu makan yang menurun dan kondisi kesehatan yang memburuk.

Penyebab Asites pada Anjing

Ada banyak penyebab yang bisa memicu asites pada anjing, beberapa di antaranya adalah:

  1. Penyakit hati: Salah satu penyebab utama asites adalah penyakit hati, seperti sirosis atau hepatitis. Hati yang tidak berfungsi dengan baik dapat menyebabkan penumpukan cairan di perut.
  2. Penyakit jantung: Masalah jantung, seperti gagal jantung kongestif, bisa menyebabkan penumpukan cairan di berbagai bagian tubuh, termasuk perut.
  3. Kanker: Beberapa jenis kanker, terutama yang melibatkan organ perut, dapat menyebabkan asites.
  4. Infeksi: Infeksi bakteri atau parasit tertentu juga bisa menyebabkan penumpukan cairan di perut.
  5. Gangguan ginjal: Ginjal yang tidak berfungsi dengan baik dapat menyebabkan penumpukan cairan di tubuh, termasuk di rongga perut.

Diagnosis dan Pengobatan

Jika mencurigai anjingmu mengalami asites, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membawanya ke dokter hewan. Dokter hewan akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin akan melakukan beberapa tes, seperti ultrasonografi atau tes darah, untuk mengetahui penyebab pastinya.

Pengobatan asites tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Beberapa langkah yang mungkin diambil termasuk:

  1. Pemberian obat: Dokter hewan mungkin akan memberikan obat untuk mengurangi penumpukan cairan, seperti diuretik.
  2. Prosedur penarikan cairan: Jika jumlah cairan terlalu banyak dan menyebabkan ketidaknyamanan, dokter mungkin akan melakukan prosedur untuk mengeluarkan cairan tersebut.
  3. Pengobatan penyakit yang mendasarinya: Jika asites disebabkan oleh penyakit hati, jantung, atau kanker, pengobatan akan difokuskan pada kondisi tersebut.

Perawatan dan Pencegahan

Setelah diagnosis dan pengobatan, penting untuk memberikan perawatan lanjutan pada anjing yang mengalami asites. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Pola makan sehat: Berikan makanan yang rendah garam dan kaya akan nutrisi untuk membantu menjaga kesehatan anjing.
  2. Kunjungan rutin ke dokter hewan: Pantau kesehatan anjing secara rutin untuk memastikan bahwa kondisi mereka tidak memburuk.
  3. Hindari faktor risiko: Jika anjingmu memiliki risiko tertentu, seperti masalah jantung atau hati, pastikan untuk mengelola faktor risiko tersebut dengan baik.

Asites pada anjing memang bisa menjadi kondisi yang mengkhawatirkan, namun dengan penanganan yang tepat dan cepat, kondisi ini bisa diatasi. Jika kamu melihat tanda-tanda asites pada anjing kesayanganmu, jangan ragu untuk segera berkonsultasi.

Konsultasikan dengan  dokter hewan terdekat melalui  Call Center Pet Care untuk melakukan pemeriksaan terbaik bagi sahabat empat kaki.

Pet Care memberikan layanan home service yang mudah dan terpercaya. Pemesanan pun mudah dilakukan tanpa perlu repot membawa hewan peliharaan ke luar rumah. 

Jadi, jangan ragu hubungi kami. Dengan perawatan yang baik, anjingmu bisa kembali sehat dan ceria seperti sedia kala!

pexels-photo-93825

Jenis-Jenis Anjing Kecil yang Menggemaskan untuk Dipelihara

Anjing kecil selalu menjadi pilihan favorit banyak orang untuk dijadikan teman setia di rumah. Ukurannya yang mungil, wajah yang imut, serta kepribadiannya yang penuh kasih sayang membuat mereka sangat cocok untuk dijadikan peliharaan, terutama bagi mereka yang tinggal di apartemen atau rumah dengan ruang terbatas. Yuk, kita kenali beberapa jenis ras anjing kecil yang bisa jadi pilihan kamu!

1. Chihuahua

Chihuahua adalah salah satu jenis anjing terkecil di dunia. Meskipun kecil, anjing ini memiliki kepribadian yang besar. Chihuahua dikenal sangat berani dan sering kali tidak menyadari ukurannya yang mungil, mereka bisa saja menantang anjing yang jauh lebih besar. Selain itu, Chihuahua sangat loyal dan protektif terhadap pemiliknya. Mereka juga suka berpelukan dan menjadi anjing pangkuan yang sempurna.

2. Pomeranian

Pomeranian memiliki bulu tebal dan wajah yang mirip dengan rubah, membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Anjing ini sangat enerjik dan cerdas. Mereka suka belajar trik baru dan bermain dengan pemiliknya. Pomeranian juga sangat setia dan bisa menjadi penjaga rumah yang baik, meskipun ukurannya kecil. Anjing ini cocok untuk kamu yang mencari teman yang aktif dan penuh semangat.

3. Shih Tzu

Shih Tzu adalah anjing yang ramah dan lembut. Mereka sangat cocok untuk keluarga dengan anak-anak karena sifatnya yang penyayang dan sabar. Anjing ini memiliki bulu yang panjang dan lebat, sehingga membutuhkan perawatan yang cukup intensif, seperti menyisir dan mandi rutin. Shih Tzu sangat suka bermain dan juga menikmati waktu santai di rumah. Mereka adalah pilihan yang tepat jika kamu mencari anjing kecil yang tenang dan manis.

4. Yorkshire Terrier

Yorkshire Terrier, atau sering disebut Yorkie, adalah anjing kecil dengan bulu panjang yang halus. Mereka sangat cerdas dan energik, serta suka berpetualang. Yorkie juga dikenal sebagai anjing yang berani dan tidak takut menghadapi tantangan, meskipun ukurannya kecil. Mereka suka menjadi pusat perhatian dan bisa sedikit manja. Namun, dengan pelatihan yang tepat, Yorkie bisa menjadi teman yang setia dan patuh.

5. Pug

Pug adalah anjing kecil dengan wajah datar dan ekspresi yang lucu. Mereka memiliki sifat yang penuh kasih sayang dan sangat suka berada di dekat pemiliknya. Pug dikenal sebagai anjing yang tenang dan tidak terlalu aktif, sehingga cocok untuk kamu yang mencari anjing yang bisa menjadi teman bersantai di rumah. Mereka juga mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan sangat ramah dengan orang lain serta hewan peliharaan lain.

6. Bichon Frise

Bichon Frise adalah anjing kecil dengan bulu putih yang keriting dan wajah yang selalu terlihat bahagia. Mereka sangat sosial dan suka bermain, serta mudah bergaul dengan orang lain dan hewan peliharaan lainnya. Bichon Frise sangat cerdas dan mudah dilatih, sehingga cocok untuk pemilik yang baru pertama kali memelihara anjing. Mereka juga tidak terlalu banyak merontokkan bulu, membuatnya menjadi pilihan yang baik bagi mereka yang memiliki alergi.

7. Maltese

Maltese adalah anjing kecil dengan bulu putih panjang yang indah. Mereka memiliki kepribadian yang lembut dan penyayang. Anjing ini sangat suka berinteraksi dengan manusia dan bisa menjadi teman yang setia. Meskipun kecil, Maltese cukup aktif dan suka bermain. Mereka juga cerdas dan bisa dilatih untuk melakukan berbagai trik. Maltese cocok untuk kamu yang mencari anjing kecil yang manis dan mudah dirawat.

Memelihara anjing kecil tidak hanya memberikan kebahagiaan, tetapi juga tanggung jawab. Setiap jenis anjing memiliki kebutuhan dan karakteristik yang berbeda, jadi penting untuk memilih anjing yang sesuai dengan gaya hidup dan kemampuan kamu dalam merawatnya.

Itu adalah ras anjing terkecil yang mungkin cocok untuk menjadi sahabat kalian. Jika kalian ingin memelihara anjing, lakukanlah konsultasi ke dokter hewan terdekat yang bisa dihubungi melalui call center Pet Care. 

Layanan home visit ini memberikan kenyaman bagi pemilik dan hewan kesayangan ketika ingin berkonsultasi atau perawatan. Jangan ragu hubungi kami.

Anjing kecil memang menggemaskan, tetapi mereka juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang cukup. Jadi, pastikan kamu siap memberikan yang terbaik untuk teman berbulu kamu ini!

pexels-tdcat-97863

Jangan Sepelekan Batuk Kennel pada Anjing

Anjing terus batuk hingga hidung berair? Waspada, ini merupakan gejala batuk kennel. 

Meskipun terkesan ringan, batuk ini dapat menimbulkan komplikasi serius pada anjing, terutama pada anak anjing, anjing tua, dan anjing dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Oleh karena itu, penting bagi para pemilik anjing untuk memahami seluk-beluk penyakit ini dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat. Jangan khawatir, artikel ini akan mengupas tuntas tentang batuk kennel, mulai dari penyebab, gejala, hingga cara pencegahannya.

Semoga informasi ini bisa membantu para pemilik anjing untuk menjaga kesehatan hewan kesayangan mereka dan mencegah penyebaran penyakit ini. 

Yuk, kita pelajari bersama!

Apa itu Batuk Kennel?

Batuk kennel, bagaikan hantu tak kasat mata yang mengintai di balik keceriaan anjing saat bermain di taman. Penyakit pernapasan menular ini mudah menyebar dan dapat menyerang anjing dari segala usia, ras, dan latar belakang.

Batuk kennel, atau dikenal juga sebagai tracheobronchitis infeksius atau batuk kandang. Penyakit pernapasan pada anjing ini umumnya menular. Penyakit ini mirip dengan flu pada manusia dan sering kali tersebar di tempat-tempat di mana anjing berkumpul, seperti kandang anjing, pusat pelatihan, atau tempat penampungan hewan. Berikut ini adalah penjelasan lengkap mengenai infeksi pernapasan, mulai dari gejala, penyebab, hingga penanganannya.

Penyebab Batuk Kennel

Batuk kennel biasanya disebabkan oleh kombinasi infeksi virus dan bakteri. Penyebab umum meliputi:

  1. Bordetella bronchiseptica: Bakteri ini adalah penyebab utamanya. Sering kali, infeksi Bordetella disertai dengan infeksi virus lain.
  2. Virus Parainfluenza: Virus ini sering ditemukan bersama dengan Bordetella dan dapat memperparah gejala.
  3. Adenovirus Tipe 2: Virus lain yang dapat menyebabkan batuk kennel dan sering menyerang saluran pernapasan bagian atas anjing.

Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebar melalui udara atau kontak langsung dengan anjing yang terinfeksi. Anjing juga bisa terinfeksi melalui permukaan yang terkontaminasi, seperti mangkuk makanan, kandang, atau mainan.

Gejala Batuk Kennel

Gejalanya biasanya muncul dalam 2-10 hari setelah anjing terpapar infeksi. Gejala utama adalah batuk kering dan keras, yang sering digambarkan seperti suara “klakson”. Gejala lainnya dapat meliputi:

  1. Batuk yang persisten: Biasanya semakin parah setelah aktivitas fisik atau ketika anjing menarik tali leher.
  2. Muntah atau tersedak: Terkadang batuk yang keras bisa menyebabkan anjing muntah atau tersedak.
  3. Keluarnya lendir: Beberapa anjing akan mengalami keluarnya lendir dari hidung.
  4. Demam ringan: Pada beberapa kasus, anjing akan mengalami demam ringan.
  5. Lesu: Anjing yang terinfeksi akan terlihat lesu dan kurang berenergi.

Cara Mengatasi Batuk Kennel

Penanganan batuk kennel tergantung pada tingkat keparahan gejala. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil:

  1. Istirahat dan Isolasi: Anjing yang terinfeksi sebaiknya diisolasi dari anjing lain untuk mencegah penyebaran. Pastikan anjing mendapat cukup istirahat.
  2. Penggunaan Humidifier: Udara yang lembab bisa membantu meredakan iritasi di saluran pernapasan.
  3. Obat-obatan: Dokter hewan mungkin meresepkan antibiotik untuk melawan infeksi bakteri, serta obat batuk atau antiinflamasi untuk meredakan gejala.
  4. Hindari Aktivitas Berat: Batasi aktivitas fisik yang berat untuk menghindari iritasi lebih lanjut pada saluran pernapasan.

Pencegahan Batuk Kennel

  1. Vaksinasi Rutin: Mencegah lebih baik daripada mengobati. Vaksinasi terhadap Bordetella dan virus parainfluenza dapat mengurangi risiko terinfeksi. Pastikan anjing mendapatkan vaksinasi sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh dokter hewan. 

Sekarang vaksin anjing dan kucing bisa dilakukan di rumah, lho. Pet Care menyediakan layanan vaksinasi yang siap datang ke rumah. Tenaga medis dari Pet Care bersertifikat lengkap dan berpengalaman. Dijamin vaksinasi mudah, cepat dan tidak repot.

  1. Hindari Kontak dengan Anjing yang Terinfeksi: Jika Anda tahu ada anjing yang terinfeksi, hindari kontak untuk sementara waktu.
  2. Kebersihan Lingkungan: Bersihkan dan desinfeksi lingkungan tempat tinggal anjing secara rutin, termasuk mangkuk makanan, mainan, dan tempat tidur.
  3. Pemantauan Kesehatan: Pantau kesehatan anjing secara rutin dan segera konsultasikan dengan dokter hewan jika ada gejala yang mencurigakan. 

Kapan Harus Membawa Anjing ke Dokter Hewan?

Sebaiknya bawa anjing ke dokter hewan jika ia menunjukkan gejala batuk kennel, terutama jika gejalanya parah atau tidak membaik dalam beberapa minggu. Dokter hewan akan dapat mendiagnosis batuk kennel dan merekomendasikan pengobatan yang tepat.

Konsultasikan dengan  dokter hewan terdekat melalui  Call Center Pet Care untuk melakukan pemeriksaan terbaik bagi sahabat empat kaki. Pet Care memberikan layanan home service yang mudah dan terpercaya. Pemesanan pun mudah dilakukan tanpa perlu repot membawa hewan peliharaan ke luar rumah. 

Jadi, jangan ragu hubungi kami.

pexels-mikhail-nilov-7469274

Waspadai Penyakit Menular pada Anjing Kesayangan

Penyakit menular pada anjing adalah momok bagi setiap pemilik. Dibaiik tingkah menggemaskan dan kelucuannya, anjing rentan terhadap penyakit. Beberapa penyakit juga dapat menular baik ke sesama anjing maupun manusia. 

Agar tidak menulari atau tertular penyakit, yuk kita pelajari berbagai penyakit menular yang harus diwaspadai. 

1. Parvovirus

Parvovirus, atau biasa disebut Parvo, adalah penyakit virus yang sangat menular dan menyerang sistem pencernaan anjing. Penyakit ini sangat berbahaya, terutama bagi anak anjing dan anjing yang belum divaksinasi, dan dapat berakibat fatal jika tidak diobati dengan segera.

Parvovirus disebabkan oleh virus Canine Parvovirus (CPV) yang sangat tahan terhadap lingkungan. Virus ini dapat menular melalui kontak langsung dengan feses, muntah, atau air liur anjing yang terinfeksi, serta melalui benda-benda yang terkontaminasi virus.

Gejala:

Gejala Parvo biasanya muncul 3-7 hari setelah anjing terinfeksi. Gejalanya meliputi:

  • Demam tinggi
  • Lemah dan lesu
  • Kehilangan nafsu makan
  • Diare berdarah dan berbau busuk
  • Muntah
  • Dehidrasi
  • Nyeri perut

2. Distemper

Distemper, yang juga dikenal sebagai Canine Distemper Virus (CDV), adalah penyakit yang sangat menular dan mematikan pada anjing. Penyakit ini menyerang berbagai sistem organ, termasuk sistem pernapasan, pencernaan, dan saraf, dan dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian.

Distemper disebabkan oleh virus paramyxovirus yang ditularkan melalui kontak langsung dengan air liur, urine, atau feses anjing yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi melalui ciuman atau kontak hidung, berbagi makanan atau minuman, kontak dengan benda yang terkontaminasi.

Gejala:

Gejala distemper biasanya muncul dalam waktu 3-7 hari setelah terpapar virus. Gejalanya bisa bervariasi tergantung pada anjing dan organ yang terkena, namun beberapa gejala umum meliputi:

  • Demam tinggi
  • Batuk dan pilek
  • Peradangan selaput mata 
  • Diare dan muntah
  • Penurunan nafsu makan
  • Kelelahan dan kelesuan
  • Gejala neurologis

3. Rabies

Rabies, atau yang dikenal dengan penyakit anjing gila, adalah penyakit virus mematikan yang menyerang sistem saraf pusat mamalia, termasuk manusia. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi, dan hampir selalu berakibat fatal jika tidak diobati segera.

Penyebab rabies adalah virus rabies (Lyssavirus) yang terdapat dalam air liur hewan yang terinfeksi. Hewan yang paling sering menularkan rabies adalah anjing, namun kelelawar, kera, dan rubah juga bisa menjadi pembawa virus.

Penularan rabies terjadi ketika virus rabies dari air liur hewan yang terinfeksi masuk ke dalam tubuh manusia atau hewan lainnya melalui luka gigitan atau cakaran. Virus ini kemudian bergerak melalui sistem saraf menuju otak, di mana virus ini akan menyerang dan merusak sel-sel otak.

Gejala:

Gejala rabies pada hewan dan manusia umumnya muncul 2-3 minggu setelah terpapar virus, namun bisa juga lebih lama, hingga bertahun-tahun. Berikut gejala awal rabies pada hewan dan manusia dapat meliputi:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Nyeri otot
  • Kehilangan nafsu makan
  • Gelisah dan mudah marah
  • Kesemutan dan mati rasa di sekitar luka gigitan atau cakaran

Gejala rabies kemudian akan berkembang menjadi:

  • Hidrofobia (takut air): Penderita rabies akan mengalami ketakutan dan kejang saat melihat atau mendengar air.
  • Aerofobia (takut angin): Penderita rabies akan mengalami ketakutan dan kejang saat merasakan angin.
  • Kelumpuhan: Kelumpuhan akan dimulai dari area di sekitar luka gigitan atau cakaran dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh.
  • Halusinasi dan delusi
  • Perilaku agresif: Penderita rabies akan menjadi sangat agresif dan mudah menyerang orang lain.
  • Kematian: Rabies hampir selalu berakibat fatal jika tidak diobati segera.

4. Batuk Kennel  

Batuk Kennel, juga dikenal sebagai trakeobronkitis anjing infeksius, adalah penyakit pernapasan yang sangat menular pada anjing. Penyakit ini paling sering menyerang anjing yang berada di tempat-tempat ramai seperti kandang, penitipan anjing, dan pameran anjing.

Batuk Kennel disebabkan oleh kombinasi virus dan bakteri, dengan Bordetella bronchiseptica sebagai penyebab paling umum. Bakteri ini menyerang trakea dan bronkus, menyebabkan peradangan dan infeksi.

Batuk Kennel sangat menular dan dapat menyebar melalui kontak langsung dengan anjing yang terinfeksi, atau melalui droplet pernapasan yang dilepaskan saat batuk atau bersin. Virus dan bakteri juga dapat bertahan hidup di lingkungan selama beberapa jam, dan dapat menular melalui benda yang terkontaminasi.

Gejala:

Gejala Batuk Kennel yang paling umum adalah batuk kering dan kuat, yang mungkin terdengar seperti suara “klakson”. Berikut gejala lain bisa termasuk:

  • Bersin
  • Hidung berair
  • Mata berair
  • Demam
  • Hilang nafsu makan
  • Letargia

5. Leptospirosis

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini dapat menular ke manusia dan hewan lain, termasuk anjing. Leptospirosis paling sering ditemukan di daerah tropis dan subtropis, dan lebih sering terjadi pada musim hujan.

Bakteri Leptospira dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan urin atau darah hewan yang terinfeksi, Mengkonsumsi makanan terkontaminasi, gigitan atau cakaran hewan terinfeksi. Tikus adalah salah satu pembawa utama Leptospirosis. Jaga kebersihan kandang, tempat makan dan minum, serta lingkungan anjing.

Gejala:

Gejala Leptospirosis pada anjing dapat bervariasi, dan beberapa anjing mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali. Gejala yang umum termasuk:

  • Demam: Demam tinggi adalah salah satu gejala paling umum dari Leptospirosis.
  • Kelemahan: Anjing mungkin terlihat lemas, lesu, dan tidak mau beraktivitas.
  • Nyeri otot: Anjing mungkin menunjukkan tanda-tanda nyeri otot, seperti kesulitan berjalan atau menaiki tangga.
  • Muntah dan diare: Leptospirosis dapat menyebabkan muntah dan diare, yang dapat menyebabkan dehidrasi.
  • Gagal ginjal: Dalam kasus yang parah, Leptospirosis dapat menyebabkan gagal ginjal, yang dapat berakibat fatal

6. Hepatitis 

Hepatitis pada anjing adalah peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti virus, bakteri, parasit, obat-obatan, dan toksin. Hati merupakan organ vital yang berperan penting dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk metabolisme, detoksifikasi, dan produksi protein. Ketika hati mengalami peradangan, fungsinya dapat terganggu dan berakibat serius bagi kesehatan anjing.

Hepatitis virus pada anjing adalah salah satu penyebab paling umum, dengan Canine Adenovirus Type 1 (CAV-1) sebagai penyebab utama. Virus ini sangat menular dan dapat menyerang anjing di segala usia, namun lebih sering terjadi pada anak anjing dan anjing muda.

Beberapa jenis bakteri, seperti Leptospira dan Salmonella, juga dapat menyebabkan hepatitis pada anjing. Infeksi bakteri ini biasanya terjadi melalui kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi.

Gejala 

Gejala hepatitis pada anjing dapat bervariasi tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan penyakitnya. Berikut beberapa gejala yang umum terjadi:

  • Demam
  • Lethargy
  • Kehilangan nafsu makan
  • Penurunan berat badan
  • Muntah
  • Diare
  • Nyeri perut
  • Ikterus (penyakit kuning)
  • Urine berwarna gelap
  • Feses berwarna pucat
  • Pembesaran perut

Penyakit menular pada anjing sangat berbahaya dan bahkan mematikan jika tidak ditangani dengan baik. Pencegahan melalui vaksinasi dan menjaga kebersihan adalah langkah utama yang bisa diambil pemilik anjing untuk melindungi hewan peliharaan mereka. 

Jika Anda tidak ingin anjing terkena penyakit menular, lakukan vaksinasi secara rutin. Pet Care menyediakan layanan vaksinasi yang siap datang ke rumah. Tenaga medis dari Pet Care bersertifikat lengkap dan berpengalaman. Sekarang vaksinasi bisa dilakukan dimana saja tanpa ribet.

Setelah vaksin jangan lupa untuk selalu berkonsultasi dengan dokter hewan terdekat melalui layanan call center Pet Care. Dokter hewan terdekat dari lokasi Anda akan langsung datang ke rumah. 

Pet Care memberikan layanan home service yang mudah dan terpercaya. Pemesanan pun mudah dilakukan tanpa perlu repot membawa hewan peliharaan ke luar rumah. 

Jadi, jangan ragu hubungi kami.

Pet dog body with red irritated skin due to yeast infection and allergy

Waspada Badan Anjing Bentol dan Bintik Merah Karena Folikulitis 

Sering muncul bentol dan kemerahan pada kulit anjing? Bisa jadi penyebabnya karena folikulitis. 

Anjing termasuk golongan hewan yang mudah terserang penyakit kulit. Oleh sebab itu, ia rentan terkena infeksi pada kulitnya termasuk folikulitis. Sebenarnya apa itu folikulitis? Apakah berbahaya bagi anjing?

Yuk, simak penjelasannya!

Apa itu Folikulitis pada Anjing?

Folikulitis adalah kondisi peradangan pada folikel rambut yang umum terjadi pada anjing. Folikel rambut adalah struktur kecil di kulit tempat rambut tumbuh. Saat folikel ini terinfeksi atau mengalami iritasi, dapat menyebabkan pembengkakan, kemerahan, dan ketidaknyamanan bagi anjing. Kondisi ini dapat menyerang anjing dari segala usia dan ras, namun lebih sering terjadi pada anjing berbulu pendek.

Penyebab Folikulitis

Ada berbagai penyebab yang dapat memicu penyakit kulit ini, diantaranya:

  1. Infeksi bakteri, seperti Staphylococcus, merupakan penyebab paling umum folikulitis pada anjing. Bakteri ini dapat masuk melalui luka kecil atau lecet pada kulit.
  2. Alergi makanan, gigitan serangga, atau alergen lingkungan dapat menyebabkan gatal dan iritasi kulit, yang berpotensi menyebabkan penyakit ini muncul.
  3. Parasit seperti kutu dan tungau dapat merusak folikel rambut, mengakibatkan infeksi sekunder.
  4. Gangguan hormonal, seperti hipotiroidisme, dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh anjing, membuatnya lebih rentan terhadap infeksi kulit.
  5. Kurangnya perawatan kulit dan bulu yang baik dapat menyebabkan penumpukan kotoran dan minyak, yang kemudian memicu parasit dan bakteri muncul.

Gejala Folikulitis pada Anjing

Gejala folikulitis pada anjing dapat bervariasi, tetapi beberapa tanda umum yang perlu diperhatikan seperti:

  • Benjolan Kecil atau Pustula. Benjolan kecil berisi nanah yang muncul di sekitar folikel rambut.
  • Kemerahan dan Pembengkakan. Kulit di sekitar area yang terinfeksi mungkin tampak merah dan bengkak.
  • Gatal dan Ketidaknyamanan. Anjing sering menggaruk atau menjilati area yang terkena.
  • Kehilangan rambut di sekitar area yang terinfeksi, seringkali membentuk pola melingkar atau bercak-bercak.
  • Keropeng atau Luka. Kulit yang teriritasi dapat menjadi keropeng atau luka terbuka akibat garukan.

Pengobatan Folikulitis pada Anjing

Pengobatan penyakit ini bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan infeksi. Berikut beberapa langkah umum yang biasanya dianjurkan oleh dokter hewan:

  1. Jika infeksi bakteri adalah penyebabnya, dokter hewan akan meresepkan antibiotik untuk mengatasi infeksi tersebut.
  2. Jika parasit adalah penyebabnya, produk antiparasit akan digunakan untuk menghilangkan kutu atau tungau.
  3. Obat antiinflamasi atau kortikosteroid dapat diberikan untuk mengurangi peradangan dan rasa gatal.
  4. Memandikan anjing dengan sampo medis yang mengandung bahan antimikroba dapat membantu membersihkan kulit dan mengurangi infeksi.
  5. Krim atau salep antibiotik topikal dapat digunakan langsung pada area yang terinfeksi.

Jika melihat tanda-tanda folikulitis pada anjing kesayangan Anda, segera bawa ke  dokter hewan terdekat dengan menghubungi layanan call center Pet care. Layanan home visit ini memberikan kenyaman bagi pemilik dan hewan kesayangan ketika ingin berkonsultasi atau perawatan di rumah saja. Perawatan dini dapat membantu mencegah komplikasi dan mempercepat pemulihan anjing Anda dari folikulitis

Jadi, jangan ragu hubungi kami untuk perawatan kucing dan anjing dari rumah..

Vet and Labrador retriever

Waspada Parasit Darah pada Anjing Menyebabkan Komplikasi

Pernah dengan parasit darah pada anjing?

Anjing, sahabat setia manusia, tak luput dari bahaya penyakit yang mengintai. Salah satunya adalah parasit darah, yang dapat menyerang sel darah merah dan menyebabkan berbagai komplikasi serius.

Parasit darah pada anjing merupakan ancaman serius yang seringkali diabaikan oleh banyak pemilik hewan peliharaan. Meskipun ukurannya kecil dan tidak terlihat dengan mata telanjang, parasit-parasit ini dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan pada kesehatan anjing.

Agar anjing tidak terinfeksi parasit ini, kita kenali dan pahami tentang parasit ini. Yuk, kita pelajari bersama!

Apa itu Parasit Darah pada Anjing?

Parasit darah terdiri dari berbagai jenis organisme yang hidup di dalam atau di sekitar aliran darah hewan peliharaan kita. Beberapa parasit ini termasuk dalam kategori ektoparasit, yang berarti mereka tinggal di luar tubuh anjing, selain itu endoparasit yang hidup di dalam tubuh anjing. Beberapa jenis parasit darah yang umum pada anjing antara lain:

  1. Cacing Jantung (Dirofilaria immitis). Parasit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk dan dapat tumbuh hingga menjadi cacing dewasa di jantung dan arteri paru-paru anjing.
  2. Anaplasma spp. Bakteri ini ditularkan melalui gigitan kutu dan dapat menyebabkan infeksi pada sel darah merah anjing, menyebabkan gejala seperti demam, letargi, dan gangguan koagulasi.
  3. Babesia spp. Parasit ini ditularkan melalui gigitan kutu dan menyebabkan infeksi pada sel darah merah, mengakibatkan anemia, demam, dan gejala lainnya.
  4. Ehrlichia spp. Bakteri ini juga ditularkan melalui gigitan kutu dan dapat menyebabkan berbagai gejala, termasuk demam, kelelahan, dan gangguan pada organ-organ internal.

Dampak dan Gejala

Infeksi parasit darah anjing dapat merugikan bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka. Gejala infeksi parasit darah dapat bervariasi bergantung jenis parasit, tingkat infeksi, dan kekebalan tubuh anjing. 

Beberapa gejala umum yang mungkin harus diperhatikan pada anjing yang terinfeksi parasit darah:

  • Demam
  • Letargi
  • Kehilangan nafsu makan
  • Muntah
  • Diare
  • Anemia (terutama pada infestasi cacing jantung dan babesia)
  • Kesulitan bernapas
  • Gangguan pada sistem saraf

Terkadang, infeksi parasit darah dapat menyebabkan kerusakan permanen di organ-organ vital anjing, seperti jantung, paru-paru, dan ginjal, jika tidak diobati dengan cepat.

Pencegahan dan Pengobatan

Pencegahan adalah kunci untuk melindungi anjing dari parasit darah. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk melindungi anjing sebagai berikut:

  1. Pemberian Obat Cacing Rutin. Rutin memberikan obat cacing sesuai petunjuk dokter hewan adalah cara yang efektif untuk mencegah infestasi cacing jantung dan cacing usus lainnya.
  2. Penggunaan Obat Antinyamuk dan Antikutu. Menggunakan obat antinyamuk dan antikutu secara teratur dapat membantu mencegah transmisi parasit seperti cacing jantung, babesia, anaplasma, dan ehrlichia.
  3. Melakukan pemeriksaan rutin pada anjing oleh dokter hewan dapat membantu mendeteksi infestasi parasit darah secara dini dan memulai pengobatan dengan cepat. 

Bagi anda yang tidak memiliki waktu untuk melakukan konsultasi, Anda dapat menghubungi  dokter hewan terdekat melalui layanan call center Pet Care. Dokter hewan terdekat dari lokasi Anda akan langsung datang ke rumah dan melakukan pemeriksaan langsung.

  1. Vaksinasi. Beberapa jenis parasit darah memiliki vaksin yang tersedia untuk membantu melindungi anjing dari infeksi. 

Sekarang vaksin anjing tak perlu keluar rumah. Pet Care menyediakan layanan vaksinasi yang siap datang ke rumah. Tenaga medis dari Pet Care bersertifikat lengkap dan berpengalaman. Dengan menggunakan layanan Pet Care, dapat memberikan pencegahan terhadap infeksi parasit darah pada anjing.

Parasit darah pada anjing adalah penyakit serius yang dapat berakibat fatal jika tidak diobati. Dengan mengetahui gejala, cara diagnosis, dan cara pengobatan, Anda dapat membantu menjaga anjing Anda tetap sehat dan terhindar dari parasit darah.

Yuk, cegah parasit darah dengan menggunakan layanan dari Pet Care. Jangan ragu hubungi kami.