Category: HEALTH

Jangan Sepelekan Batuk Kennel pada Anjing

Anjing terus batuk hingga hidung berair? Waspada, ini merupakan gejala batuk kennel. 

Meskipun terkesan ringan, batuk ini dapat menimbulkan komplikasi serius pada anjing, terutama pada anak anjing, anjing tua, dan anjing dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Oleh karena itu, penting bagi para pemilik anjing untuk memahami seluk-beluk penyakit ini dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat. Jangan khawatir, artikel ini akan mengupas tuntas tentang batuk kennel, mulai dari penyebab, gejala, hingga cara pencegahannya.

Semoga informasi ini bisa membantu para pemilik anjing untuk menjaga kesehatan hewan kesayangan mereka dan mencegah penyebaran penyakit ini. 

Yuk, kita pelajari bersama!

Apa itu Batuk Kennel?

Batuk kennel, bagaikan hantu tak kasat mata yang mengintai di balik keceriaan anjing saat bermain di taman. Penyakit pernapasan menular ini mudah menyebar dan dapat menyerang anjing dari segala usia, ras, dan latar belakang.

Batuk kennel, atau dikenal juga sebagai tracheobronchitis infeksius atau batuk kandang. Penyakit pernapasan pada anjing ini umumnya menular. Penyakit ini mirip dengan flu pada manusia dan sering kali tersebar di tempat-tempat di mana anjing berkumpul, seperti kandang anjing, pusat pelatihan, atau tempat penampungan hewan. Berikut ini adalah penjelasan lengkap mengenai infeksi pernapasan, mulai dari gejala, penyebab, hingga penanganannya.

Penyebab Batuk Kennel

Batuk kennel biasanya disebabkan oleh kombinasi infeksi virus dan bakteri. Penyebab umum meliputi:

  1. Bordetella bronchiseptica: Bakteri ini adalah penyebab utamanya. Sering kali, infeksi Bordetella disertai dengan infeksi virus lain.
  2. Virus Parainfluenza: Virus ini sering ditemukan bersama dengan Bordetella dan dapat memperparah gejala.
  3. Adenovirus Tipe 2: Virus lain yang dapat menyebabkan batuk kennel dan sering menyerang saluran pernapasan bagian atas anjing.

Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebar melalui udara atau kontak langsung dengan anjing yang terinfeksi. Anjing juga bisa terinfeksi melalui permukaan yang terkontaminasi, seperti mangkuk makanan, kandang, atau mainan.

Gejala Batuk Kennel

Gejalanya biasanya muncul dalam 2-10 hari setelah anjing terpapar infeksi. Gejala utama adalah batuk kering dan keras, yang sering digambarkan seperti suara “klakson”. Gejala lainnya dapat meliputi:

  1. Batuk yang persisten: Biasanya semakin parah setelah aktivitas fisik atau ketika anjing menarik tali leher.
  2. Muntah atau tersedak: Terkadang batuk yang keras bisa menyebabkan anjing muntah atau tersedak.
  3. Keluarnya lendir: Beberapa anjing akan mengalami keluarnya lendir dari hidung.
  4. Demam ringan: Pada beberapa kasus, anjing akan mengalami demam ringan.
  5. Lesu: Anjing yang terinfeksi akan terlihat lesu dan kurang berenergi.

Cara Mengatasi Batuk Kennel

Penanganan batuk kennel tergantung pada tingkat keparahan gejala. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil:

  1. Istirahat dan Isolasi: Anjing yang terinfeksi sebaiknya diisolasi dari anjing lain untuk mencegah penyebaran. Pastikan anjing mendapat cukup istirahat.
  2. Penggunaan Humidifier: Udara yang lembab bisa membantu meredakan iritasi di saluran pernapasan.
  3. Obat-obatan: Dokter hewan mungkin meresepkan antibiotik untuk melawan infeksi bakteri, serta obat batuk atau antiinflamasi untuk meredakan gejala.
  4. Hindari Aktivitas Berat: Batasi aktivitas fisik yang berat untuk menghindari iritasi lebih lanjut pada saluran pernapasan.

Pencegahan Batuk Kennel

  1. Vaksinasi Rutin: Mencegah lebih baik daripada mengobati. Vaksinasi terhadap Bordetella dan virus parainfluenza dapat mengurangi risiko terinfeksi. Pastikan anjing mendapatkan vaksinasi sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh dokter hewan. 

Sekarang vaksin anjing dan kucing bisa dilakukan di rumah, lho. Pet Care menyediakan layanan vaksinasi yang siap datang ke rumah. Tenaga medis dari Pet Care bersertifikat lengkap dan berpengalaman. Dijamin vaksinasi mudah, cepat dan tidak repot.

  1. Hindari Kontak dengan Anjing yang Terinfeksi: Jika Anda tahu ada anjing yang terinfeksi, hindari kontak untuk sementara waktu.
  2. Kebersihan Lingkungan: Bersihkan dan desinfeksi lingkungan tempat tinggal anjing secara rutin, termasuk mangkuk makanan, mainan, dan tempat tidur.
  3. Pemantauan Kesehatan: Pantau kesehatan anjing secara rutin dan segera konsultasikan dengan dokter hewan jika ada gejala yang mencurigakan. 

Kapan Harus Membawa Anjing ke Dokter Hewan?

Sebaiknya bawa anjing ke dokter hewan jika ia menunjukkan gejala batuk kennel, terutama jika gejalanya parah atau tidak membaik dalam beberapa minggu. Dokter hewan akan dapat mendiagnosis batuk kennel dan merekomendasikan pengobatan yang tepat.

Konsultasikan dengan  dokter hewan terdekat melalui  Call Center Pet Care untuk melakukan pemeriksaan terbaik bagi sahabat empat kaki. Pet Care memberikan layanan home service yang mudah dan terpercaya. Pemesanan pun mudah dilakukan tanpa perlu repot membawa hewan peliharaan ke luar rumah. 

Jadi, jangan ragu hubungi kami.

Expectant Family in living room

Mitos atau Fakta Bulu Kucing Berbahaya Bagi Ibu Hamil?

Apakah bulu kucing berbahaya bagi ibu hamil dan dapat menyebabkan kekguguran?

Memelihara kucing saat hamil merupakan hal yang menyenangkan bagi banyak orang. Tingkah lucu dan menggemaskan kucing dapat membantu mengurangi stres dan memberikan kenyamanan selama masa kehamilan.

Namun, di sisi lain, terdapat pula kekhawatiran tentang bahaya bulu kucing bagi ibu hamil dan janin. Berita seputar bulu kucing yang berbahaya bagi ibu hamil sering kali membuat para calon ibu khawatir dan mempertimbangkan kembali keputusan untuk memelihara kucing selama masa kehamilan.

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui fakta yang sebenarnya agar dapat mengambil langkah yang tepat. Yuk, kita cari tahu bersama-sama.

Mitos Bulu Kucing Berbahaya Bagi Ibu Hamil

Memelihara kucing bisa memberikan manfaat emosional dan psikologis bagi ibu hamil. Kucing dapat menjadi sumber kenyamanan dan mengurangi stres, yang penting selama masa kehamilan. Sentuhan lembut dan kehadiran hewan peliharaan juga dapat memberikan rasa tenang dan mendukung kesehatan mental.

Mitos bahwa bulu kucing berbahaya bagi ibu hamil kemungkinan besar berasal dari kekhawatiran mengenai toxoplasmosis, sebuah infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Parasit ini dapat ditemukan dalam tinja kucing yang terinfeksi dan bisa berbahaya bagi ibu hamil serta janinnya. Infeksi toxoplasmosis dapat menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, atau kelainan pada bayi. 

Meski kucing bisa menjadi pembawa parasit Toxoplasma gondii, infeksi toxoplasmosis lebih sering terjadi melalui konsumsi daging mentah atau setengah matang, sayuran yang tidak dicuci bersih, atau air yang terkontaminasi. Kontak langsung dengan tinja kucing yang terinfeksi adalah salah satu cara penularan, namun risiko ini dapat diminimalisir dengan menjaga kebersihan.

Parasit Toxoplasma gondii tidak hidup pada bulu kucing. Risiko tertular toxoplasmosis melalui bulu kucing sangatlah rendah. Kontak langsung dengan bulu kucing yang bersih tidak akan menyebabkan infeksi.

Apa itu Toxoplasma gondii?

Toxoplasma gondii adalah parasit protozoa yang dapat menginfeksi berbagai hewan, termasuk kucing dan manusia. Infeksi Toxoplasma gondii pada kucing dikenal sebagai toksoplasmosis. Parasit ini umumnya tidak berbahaya bagi kucing yang sehat, tetapi dapat menimbulkan risiko serius bagi ibu hamil dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Kucing biasanya tertular Toxoplasma gondii dengan dua cara:

  1. Memakan mangsa yang terinfeksi: Kucing yang berburu dan memakan hewan seperti tikus, burung, dan unggas liar berisiko tinggi terinfeksi Toxoplasma gondii. Hewan-hewan ini dapat menjadi inang perantara parasit dan mengandung kista yang mengandung Toxoplasma gondii.
  2. Menelan ookista dari kotoran kucing yang terinfeksi: Kucing yang terinfeksi Toxoplasma gondii mengeluarkan ookista, yaitu bentuk kista parasit yang tahan lama, dalam kotorannya. Ookista ini dapat bertahan hidup di lingkungan selama berbulan-bulan dan menular ke kucing lain atau manusia yang menelannya.

Kebanyakan kucing yang terinfeksi Toxoplasma gondii tidak menunjukkan gejala apa pun. Namun, pada beberapa kasus, terutama pada anak kucing dan kucing dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Gejala Toxoplasma gondii meliputi, Demam, Kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, diare, batuk, kesulitan bernafas, kejang, dan lumpuh.

Pencegahan Toxoplasma pada Ibu Hamil dan Kucing

Ibu hamil tetap bisa memelihara kucing dengan beberapa tindakan pencegahan sederhana:

  • Menghindari membersihkan kotak kotoran kucing. Mintalah orang lain untuk membersihkan kotak pasir kucing atau kenakan sarung tangan dan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah membersihkannya. Jika tidak bisa dihindari, gunakan sarung tangan dan cuci tangan dengan bersih setelahnya.
  • Memastikan kucing peliharaan tetap berada di dalam rumah dan tidak berburu atau makan daging mentah. Masak semua daging sampai matang sepenuhnya untuk membunuh parasit Toxoplasma gondii.
  • Memelihara kebersihan rumah dan menjaga agar kucing tetap bersih. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah berkebun, menyentuh tanah, atau kontak dengan hewan. Hindari kontak dengan kucing liar, karena mereka berisiko tinggi terinfeksi Toxoplasma gondii.

Mitos bahwa bulu kucing berbahaya bagi ibu hamil lebih didasarkan pada ketakutan yang kurang informasi tentang toxoplasmosis. Fakta menunjukkan bahwa risiko tertular toxoplasmosis dari bulu kucing sangat rendah. Dengan menjaga kebersihan dan mengikuti langkah-langkah pencegahan yang tepat, ibu hamil dapat tetap memelihara kucing tanpa rasa khawatir.

Jika ada kekhawatiran atau pertanyaan lebih lanjut, konsultasi dengan dokter hewan terdekat melalui call center Pet Care. Layanan ini akan membantu Anda menemukan dokter hewan terdekat dari lokasi. 

Agar kucing selalu bersih dan terjaga dari Toxoplasma gondii, berikan perawatan grooming yang rutin untuk menghindari kucing terinfeksi virus. Kini  Pet Care menyediakan layanan Grooming Kucing dan anjing Terdekat. Pesan sekarang melalui layanan Pet Care

Jadi, jangan ragu hubungi kami.

Waspadai Penyakit Menular pada Anjing Kesayangan

Penyakit menular pada anjing adalah momok bagi setiap pemilik. Dibaiik tingkah menggemaskan dan kelucuannya, anjing rentan terhadap penyakit. Beberapa penyakit juga dapat menular baik ke sesama anjing maupun manusia. 

Agar tidak menulari atau tertular penyakit, yuk kita pelajari berbagai penyakit menular yang harus diwaspadai. 

1. Parvovirus

Parvovirus, atau biasa disebut Parvo, adalah penyakit virus yang sangat menular dan menyerang sistem pencernaan anjing. Penyakit ini sangat berbahaya, terutama bagi anak anjing dan anjing yang belum divaksinasi, dan dapat berakibat fatal jika tidak diobati dengan segera.

Parvovirus disebabkan oleh virus Canine Parvovirus (CPV) yang sangat tahan terhadap lingkungan. Virus ini dapat menular melalui kontak langsung dengan feses, muntah, atau air liur anjing yang terinfeksi, serta melalui benda-benda yang terkontaminasi virus.

Gejala:

Gejala Parvo biasanya muncul 3-7 hari setelah anjing terinfeksi. Gejalanya meliputi:

  • Demam tinggi
  • Lemah dan lesu
  • Kehilangan nafsu makan
  • Diare berdarah dan berbau busuk
  • Muntah
  • Dehidrasi
  • Nyeri perut

2. Distemper

Distemper, yang juga dikenal sebagai Canine Distemper Virus (CDV), adalah penyakit yang sangat menular dan mematikan pada anjing. Penyakit ini menyerang berbagai sistem organ, termasuk sistem pernapasan, pencernaan, dan saraf, dan dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian.

Distemper disebabkan oleh virus paramyxovirus yang ditularkan melalui kontak langsung dengan air liur, urine, atau feses anjing yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi melalui ciuman atau kontak hidung, berbagi makanan atau minuman, kontak dengan benda yang terkontaminasi.

Gejala:

Gejala distemper biasanya muncul dalam waktu 3-7 hari setelah terpapar virus. Gejalanya bisa bervariasi tergantung pada anjing dan organ yang terkena, namun beberapa gejala umum meliputi:

  • Demam tinggi
  • Batuk dan pilek
  • Peradangan selaput mata 
  • Diare dan muntah
  • Penurunan nafsu makan
  • Kelelahan dan kelesuan
  • Gejala neurologis

3. Rabies

Rabies, atau yang dikenal dengan penyakit anjing gila, adalah penyakit virus mematikan yang menyerang sistem saraf pusat mamalia, termasuk manusia. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi, dan hampir selalu berakibat fatal jika tidak diobati segera.

Penyebab rabies adalah virus rabies (Lyssavirus) yang terdapat dalam air liur hewan yang terinfeksi. Hewan yang paling sering menularkan rabies adalah anjing, namun kelelawar, kera, dan rubah juga bisa menjadi pembawa virus.

Penularan rabies terjadi ketika virus rabies dari air liur hewan yang terinfeksi masuk ke dalam tubuh manusia atau hewan lainnya melalui luka gigitan atau cakaran. Virus ini kemudian bergerak melalui sistem saraf menuju otak, di mana virus ini akan menyerang dan merusak sel-sel otak.

Gejala:

Gejala rabies pada hewan dan manusia umumnya muncul 2-3 minggu setelah terpapar virus, namun bisa juga lebih lama, hingga bertahun-tahun. Berikut gejala awal rabies pada hewan dan manusia dapat meliputi:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Nyeri otot
  • Kehilangan nafsu makan
  • Gelisah dan mudah marah
  • Kesemutan dan mati rasa di sekitar luka gigitan atau cakaran

Gejala rabies kemudian akan berkembang menjadi:

  • Hidrofobia (takut air): Penderita rabies akan mengalami ketakutan dan kejang saat melihat atau mendengar air.
  • Aerofobia (takut angin): Penderita rabies akan mengalami ketakutan dan kejang saat merasakan angin.
  • Kelumpuhan: Kelumpuhan akan dimulai dari area di sekitar luka gigitan atau cakaran dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh.
  • Halusinasi dan delusi
  • Perilaku agresif: Penderita rabies akan menjadi sangat agresif dan mudah menyerang orang lain.
  • Kematian: Rabies hampir selalu berakibat fatal jika tidak diobati segera.

4. Batuk Kennel  

Batuk Kennel, juga dikenal sebagai trakeobronkitis anjing infeksius, adalah penyakit pernapasan yang sangat menular pada anjing. Penyakit ini paling sering menyerang anjing yang berada di tempat-tempat ramai seperti kandang, penitipan anjing, dan pameran anjing.

Batuk Kennel disebabkan oleh kombinasi virus dan bakteri, dengan Bordetella bronchiseptica sebagai penyebab paling umum. Bakteri ini menyerang trakea dan bronkus, menyebabkan peradangan dan infeksi.

Batuk Kennel sangat menular dan dapat menyebar melalui kontak langsung dengan anjing yang terinfeksi, atau melalui droplet pernapasan yang dilepaskan saat batuk atau bersin. Virus dan bakteri juga dapat bertahan hidup di lingkungan selama beberapa jam, dan dapat menular melalui benda yang terkontaminasi.

Gejala:

Gejala Batuk Kennel yang paling umum adalah batuk kering dan kuat, yang mungkin terdengar seperti suara “klakson”. Berikut gejala lain bisa termasuk:

  • Bersin
  • Hidung berair
  • Mata berair
  • Demam
  • Hilang nafsu makan
  • Letargia

5. Leptospirosis

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini dapat menular ke manusia dan hewan lain, termasuk anjing. Leptospirosis paling sering ditemukan di daerah tropis dan subtropis, dan lebih sering terjadi pada musim hujan.

Bakteri Leptospira dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan urin atau darah hewan yang terinfeksi, Mengkonsumsi makanan terkontaminasi, gigitan atau cakaran hewan terinfeksi. Tikus adalah salah satu pembawa utama Leptospirosis. Jaga kebersihan kandang, tempat makan dan minum, serta lingkungan anjing.

Gejala:

Gejala Leptospirosis pada anjing dapat bervariasi, dan beberapa anjing mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali. Gejala yang umum termasuk:

  • Demam: Demam tinggi adalah salah satu gejala paling umum dari Leptospirosis.
  • Kelemahan: Anjing mungkin terlihat lemas, lesu, dan tidak mau beraktivitas.
  • Nyeri otot: Anjing mungkin menunjukkan tanda-tanda nyeri otot, seperti kesulitan berjalan atau menaiki tangga.
  • Muntah dan diare: Leptospirosis dapat menyebabkan muntah dan diare, yang dapat menyebabkan dehidrasi.
  • Gagal ginjal: Dalam kasus yang parah, Leptospirosis dapat menyebabkan gagal ginjal, yang dapat berakibat fatal

6. Hepatitis 

Hepatitis pada anjing adalah peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti virus, bakteri, parasit, obat-obatan, dan toksin. Hati merupakan organ vital yang berperan penting dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk metabolisme, detoksifikasi, dan produksi protein. Ketika hati mengalami peradangan, fungsinya dapat terganggu dan berakibat serius bagi kesehatan anjing.

Hepatitis virus pada anjing adalah salah satu penyebab paling umum, dengan Canine Adenovirus Type 1 (CAV-1) sebagai penyebab utama. Virus ini sangat menular dan dapat menyerang anjing di segala usia, namun lebih sering terjadi pada anak anjing dan anjing muda.

Beberapa jenis bakteri, seperti Leptospira dan Salmonella, juga dapat menyebabkan hepatitis pada anjing. Infeksi bakteri ini biasanya terjadi melalui kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi.

Gejala 

Gejala hepatitis pada anjing dapat bervariasi tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan penyakitnya. Berikut beberapa gejala yang umum terjadi:

  • Demam
  • Lethargy
  • Kehilangan nafsu makan
  • Penurunan berat badan
  • Muntah
  • Diare
  • Nyeri perut
  • Ikterus (penyakit kuning)
  • Urine berwarna gelap
  • Feses berwarna pucat
  • Pembesaran perut

Penyakit menular pada anjing sangat berbahaya dan bahkan mematikan jika tidak ditangani dengan baik. Pencegahan melalui vaksinasi dan menjaga kebersihan adalah langkah utama yang bisa diambil pemilik anjing untuk melindungi hewan peliharaan mereka. 

Jika Anda tidak ingin anjing terkena penyakit menular, lakukan vaksinasi secara rutin. Pet Care menyediakan layanan vaksinasi yang siap datang ke rumah. Tenaga medis dari Pet Care bersertifikat lengkap dan berpengalaman. Sekarang vaksinasi bisa dilakukan dimana saja tanpa ribet.

Setelah vaksin jangan lupa untuk selalu berkonsultasi dengan dokter hewan terdekat melalui layanan call center Pet Care. Dokter hewan terdekat dari lokasi Anda akan langsung datang ke rumah. 

Pet Care memberikan layanan home service yang mudah dan terpercaya. Pemesanan pun mudah dilakukan tanpa perlu repot membawa hewan peliharaan ke luar rumah. 

Jadi, jangan ragu hubungi kami.

Cat in Litter Box

Kucing Susah Buang Air Besar? Yuk Atasi Dengan Mudah

Kucing susah buang air besar atau sembelit adalah masalah umum yang sering membuat pemilik kucing khawatir. Kondisi ini bisa menyebabkan kucing merasa tidak nyaman dan bahkan sakit jika tidak segera diatasi. 

Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, dan penting untuk segera diatasi agar tidak menimbulkan komplikasi kesehatan yang serius. Bagi pemilik yang merasa kebingungan mengatasi hal ini? Yuk, simak artikel ini!

Penyebab Kucing Susah Buang Air Besar

Kucing susah buang air besar, atau sembelit, bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti dehidrasi, kekurangan serat, gumpalan rambut, perubahan pola makan, stres, penyakit pencernaan, obat-obatan, dan penyebab lain seperti obesitas, penyumbatan usus, dan tumor.

Penting untuk mengamati gejala seperti frekuensi BAB, tekstur feses, nafsu makan, dan tanda-tanda nyeri perut. Ada berbagai penyebab yang dapat membuat kucing mengalami kesulitan buang air besar, termasuk:

  • Dehidrasi: Kurangnya asupan air dapat menyebabkan tinja menjadi keras dan sulit dikeluarkan.
  • Diet yang Tidak Tepat: Makanan yang rendah serat atau perubahan mendadak dalam diet kucing bisa menjadi pemicu sembelit.
  • Bola Rambut: Kucing yang sering menjilat bulu mereka bisa menelan banyak rambut yang kemudian membentuk bola rambut di dalam perut, menghambat pencernaan.
  • Kurangnya Aktivitas Fisik: Kucing yang kurang bergerak cenderung mengalami masalah pencernaan, termasuk sembelit.
  • Penyakit Medis: Beberapa kondisi medis seperti masalah tulang belakang, gangguan tiroid, atau penyakit ginjal juga dapat menyebabkan sembelit.

Gejala Kucing Susah Buang Air Besar

Gejala utama kucing susah buang air besar (sembelit) adalah kurangnya frekuensi buang air besar. Kucing yang sembelit biasanya buang air besar lebih jarang dari biasanya, bahkan mungkin tidak buang air besar selama beberapa hari. Selain itu, kucing yang sembelit mungkin mengejan keras saat mencoba buang air besar, namun hanya mengeluarkan sedikit feses. Fesesnya pun biasanya keras, kering, dan kecil.

Kucing yang sembelit juga bisa kehilangan nafsu makan dan terlihat lemas. Dalam beberapa kasus, kucing yang sembelit mungkin menunjukkan tanda-tanda nyeri perut, seperti mengeong kesakitan saat disentuh di perut.

Mengidentifikasi gejala sembelit pada kucing sangat penting agar bisa segera diambil tindakan. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Mencoba Buang Air Besar Sering Tanpa Hasil: Kucing terlihat sering berada di kotak pasir, tetapi tidak menghasilkan feses.  Kucing mungkin mengejan keras saat mencoba buang air besar, namun hanya mengeluarkan sedikit feses. Kucing yang sembelit, biasanya buang air besar lebih jarang dari biasanya. 
  • Tinja Kecil dan Keras: Jika ada feses, biasanya berbentuk kecil, keras, dan kering. Feses kucing yang sembelit biasanya keras, kering, dan kecil.
  • Kehilangan Nafsu Makan: Kucing mungkin menjadi kurang berminat pada makanan.
  • Lesu: Kucing tampak lesu dan kurang berenergi.
  • Perut Kembung: Kucing yang sembelit mungkin menunjukkan tanda-tanda nyeri perut, seperti mengeong kesakitan saat disentuh di perut. 

Solusi Cepat Mengatasi Kucing Susah Buang Air Besar

Berikut beberapa langkah yang dapat diambil untuk membantu kucing yang mengalami sembelit:

  • Meningkatkan Asupan Air: Pastikan kucing minum cukup air. Tambahkan air ke dalam makanan kucing atau menyediakan air mancur khusus kucing untuk mendorong mereka minum lebih banyak.
  • Mengubah Pola Makan: Berikan makanan yang mengandung lebih banyak serat. Selain itu, bisa menambahkan sedikit labu kalengan (tanpa bumbu) ke dalam makanan mereka.
  • Olahraga Rutin: Ajak kucing bermain secara rutin untuk meningkatkan aktivitas fisik mereka.
  • Penggunaan Pencahar atau Suplemen: Dengan persetujuan dokter hewan, pemilik bisa memberikan pencahar atau suplemen serat untuk membantu melancarkan pencernaan.
  • Menyikat Bulu Secara Rutin: Untuk mengurangi jumlah rambut yang tertelan, sikat bulu kucing secara rutin, terutama bagi kucing berbulu panjang.

Kapan Harus Menghubungi Dokter Hewan

Sembelit pada kucing adalah masalah yang bisa menyebabkan ketidaknyamanan serius jika tidak ditangani dengan tepat. Jika langkah-langkah di atas tidak memberikan hasil atau menunjukkan tanda-tanda sakit parah seperti muntah, perut sangat kembung, atau tidak buang air besar sama sekali selama beberapa hari, segera hubungi  dokter hewan terdekat dengan menghubungi layanan call center Pet care. 

Layanan home visit ini memberikan kenyaman bagi pemilik dan hewan kesayangan ketika ingin berkonsultasi atau perawatan di rumah saja. Penanganan medis yang tepat dapat membantu mengatasi sembelit.

Jadi, jangan ragu hubungi kami untuk perawatan kucing dan anjing dari rumah..

Pet dog body with red irritated skin due to yeast infection and allergy

Waspada Badan Anjing Bentol dan Bintik Merah Karena Folikulitis 

Sering muncul bentol dan kemerahan pada kulit anjing? Bisa jadi penyebabnya karena folikulitis. 

Anjing termasuk golongan hewan yang mudah terserang penyakit kulit. Oleh sebab itu, ia rentan terkena infeksi pada kulitnya termasuk folikulitis. Sebenarnya apa itu folikulitis? Apakah berbahaya bagi anjing?

Yuk, simak penjelasannya!

Apa itu Folikulitis pada Anjing?

Folikulitis adalah kondisi peradangan pada folikel rambut yang umum terjadi pada anjing. Folikel rambut adalah struktur kecil di kulit tempat rambut tumbuh. Saat folikel ini terinfeksi atau mengalami iritasi, dapat menyebabkan pembengkakan, kemerahan, dan ketidaknyamanan bagi anjing. Kondisi ini dapat menyerang anjing dari segala usia dan ras, namun lebih sering terjadi pada anjing berbulu pendek.

Penyebab Folikulitis

Ada berbagai penyebab yang dapat memicu penyakit kulit ini, diantaranya:

  1. Infeksi bakteri, seperti Staphylococcus, merupakan penyebab paling umum folikulitis pada anjing. Bakteri ini dapat masuk melalui luka kecil atau lecet pada kulit.
  2. Alergi makanan, gigitan serangga, atau alergen lingkungan dapat menyebabkan gatal dan iritasi kulit, yang berpotensi menyebabkan penyakit ini muncul.
  3. Parasit seperti kutu dan tungau dapat merusak folikel rambut, mengakibatkan infeksi sekunder.
  4. Gangguan hormonal, seperti hipotiroidisme, dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh anjing, membuatnya lebih rentan terhadap infeksi kulit.
  5. Kurangnya perawatan kulit dan bulu yang baik dapat menyebabkan penumpukan kotoran dan minyak, yang kemudian memicu parasit dan bakteri muncul.

Gejala Folikulitis pada Anjing

Gejala folikulitis pada anjing dapat bervariasi, tetapi beberapa tanda umum yang perlu diperhatikan seperti:

  • Benjolan Kecil atau Pustula. Benjolan kecil berisi nanah yang muncul di sekitar folikel rambut.
  • Kemerahan dan Pembengkakan. Kulit di sekitar area yang terinfeksi mungkin tampak merah dan bengkak.
  • Gatal dan Ketidaknyamanan. Anjing sering menggaruk atau menjilati area yang terkena.
  • Kehilangan rambut di sekitar area yang terinfeksi, seringkali membentuk pola melingkar atau bercak-bercak.
  • Keropeng atau Luka. Kulit yang teriritasi dapat menjadi keropeng atau luka terbuka akibat garukan.

Pengobatan Folikulitis pada Anjing

Pengobatan penyakit ini bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan infeksi. Berikut beberapa langkah umum yang biasanya dianjurkan oleh dokter hewan:

  1. Jika infeksi bakteri adalah penyebabnya, dokter hewan akan meresepkan antibiotik untuk mengatasi infeksi tersebut.
  2. Jika parasit adalah penyebabnya, produk antiparasit akan digunakan untuk menghilangkan kutu atau tungau.
  3. Obat antiinflamasi atau kortikosteroid dapat diberikan untuk mengurangi peradangan dan rasa gatal.
  4. Memandikan anjing dengan sampo medis yang mengandung bahan antimikroba dapat membantu membersihkan kulit dan mengurangi infeksi.
  5. Krim atau salep antibiotik topikal dapat digunakan langsung pada area yang terinfeksi.

Jika melihat tanda-tanda folikulitis pada anjing kesayangan Anda, segera bawa ke  dokter hewan terdekat dengan menghubungi layanan call center Pet care. Layanan home visit ini memberikan kenyaman bagi pemilik dan hewan kesayangan ketika ingin berkonsultasi atau perawatan di rumah saja. Perawatan dini dapat membantu mencegah komplikasi dan mempercepat pemulihan anjing Anda dari folikulitis

Jadi, jangan ragu hubungi kami untuk perawatan kucing dan anjing dari rumah..

Ginger cat scratching behind her ear on white background

Scabies Penyebab Gatal yang Mengganggu Kucing

Kucing sering menggaruk tubuhnya? Anda harus waspada, karena bisa saja kucing terkena scabies.

Scabies, atau kudis, adalah salah satu penyakit kulit yang sering menyerang kucing. Penyakit ini disebabkan oleh tungau kecil bernama Sarcoptes scabiei atau Notoedres cati, yang menggali terowongan di dalam kulit kucing dan menyebabkan iritasi yang parah.

Scabies dapat menyerang kucing dari segala usia dan ras, dan meskipun tidak fatal, dapat menyebabkan ketidaknyamanan yang signifikan bagi kucing dan pemiliknya.

Agar kucing terhindar dari scabies, yuk kita pelajari bersama penyebab, gejala dan pencegahannya!

Penyebab Scabies pada Kucing

Scabies disebabkan oleh infestasi tungau yang sangat kecil, yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tungau ini hidup di permukaan kulit dan bertelur di dalam terowongan yang mereka gali.

Penyakit ini sangat menular dan dapat menyebar melalui kontak langsung dengan kucing yang terinfeksi, atau melalui kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi tungau, seperti tempat tidur, mainan, atau peralatan perawatan. Manusia juga dapat tertular penyakit ini dari kucing, meskipun gejalanya biasanya lebih ringan.

Ada dua jenis tungau yang paling umum menyerang kucing:

  1. Sarcoptes scabiei: Umumnya menyerang anjing, tetapi bisa menular ke kucing dan manusia.
  2. Notoedres cati: Spesifik menyerang kucing dan lebih umum ditemukan pada kucing.

Gejala Scabies pada Kucing

Gejala scabies pada kucing bisa sangat bervariasi, tergantung pada tingkat keparahan infestasi. Beberapa gejala yang umum ditemukan antara lain:

  • Gatal parah, terutama di telinga, perut, dan kaki
  • Menggaruk dan menggigit berlebihan, yang dapat menyebabkan luka dan infeksi
  • Kerak dan penebalan kulit
  • Rambut rontok, terutama di area yang gatal
  • Kulit kemerahan dan bengkak
  • Kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan

Pencegahan

Pencegahan adalah langkah terbaik untuk menghindari scabies pada kucing. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil:

  • Jaga Kebersihan Kucing dan Lingkungan: Memandikan kucing secara rutin dan pastikan tempat tidurnya selalu bersih. Gunakan shampo khusus yang mengandung bahan anti-parasit bisa membantu membersihkan kulit dari tungau.
  • Hindari Kontak dengan Hewan yang Terinfeksi: Jauhkan kucing dari hewan lain yang menunjukkan gejala scabies. Selain itu, tungau bisa bertahan hidup di lingkungan sekitar, jadi penting untuk membersihkan dan mensterilisasi area tempat kucing tinggal.
  • Periksa Kucing Secara Berkala: Lakukan pemeriksaan rutin ke dokter hewan untuk memastikan kucing sehat dan bebas dari parasit.

Lalu, jika kucing sudah terkena scabies segera bawa ke  dokter hewan terdekat dengan menghubungi layanan call center Pet care. Layanan home visit ini memberikan kenyaman bagi pemilik dan hewan kesayangan ketika ingin berkonsultasi atau perawatan di rumah saja.

Dokter hewan akan meresepkan obat topikal seperti salep atau lotion yang mengandung insektisida untuk membunuh tungau. Jika infeksi semakin parah, obat oral atau suntikan diperlukan untuk mengatasinya. 

Jadi, jangan ragu hubungi kami untuk perawatan kucing dan anjing dari rumah.

Vet and Labrador retriever

Waspada Parasit Darah pada Anjing Menyebabkan Komplikasi

Pernah dengan parasit darah pada anjing?

Anjing, sahabat setia manusia, tak luput dari bahaya penyakit yang mengintai. Salah satunya adalah parasit darah, yang dapat menyerang sel darah merah dan menyebabkan berbagai komplikasi serius.

Parasit darah pada anjing merupakan ancaman serius yang seringkali diabaikan oleh banyak pemilik hewan peliharaan. Meskipun ukurannya kecil dan tidak terlihat dengan mata telanjang, parasit-parasit ini dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan pada kesehatan anjing.

Agar anjing tidak terinfeksi parasit ini, kita kenali dan pahami tentang parasit ini. Yuk, kita pelajari bersama!

Apa itu Parasit Darah pada Anjing?

Parasit darah terdiri dari berbagai jenis organisme yang hidup di dalam atau di sekitar aliran darah hewan peliharaan kita. Beberapa parasit ini termasuk dalam kategori ektoparasit, yang berarti mereka tinggal di luar tubuh anjing, selain itu endoparasit yang hidup di dalam tubuh anjing. Beberapa jenis parasit darah yang umum pada anjing antara lain:

  1. Cacing Jantung (Dirofilaria immitis). Parasit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk dan dapat tumbuh hingga menjadi cacing dewasa di jantung dan arteri paru-paru anjing.
  2. Anaplasma spp. Bakteri ini ditularkan melalui gigitan kutu dan dapat menyebabkan infeksi pada sel darah merah anjing, menyebabkan gejala seperti demam, letargi, dan gangguan koagulasi.
  3. Babesia spp. Parasit ini ditularkan melalui gigitan kutu dan menyebabkan infeksi pada sel darah merah, mengakibatkan anemia, demam, dan gejala lainnya.
  4. Ehrlichia spp. Bakteri ini juga ditularkan melalui gigitan kutu dan dapat menyebabkan berbagai gejala, termasuk demam, kelelahan, dan gangguan pada organ-organ internal.

Dampak dan Gejala

Infeksi parasit darah anjing dapat merugikan bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka. Gejala infeksi parasit darah dapat bervariasi bergantung jenis parasit, tingkat infeksi, dan kekebalan tubuh anjing. 

Beberapa gejala umum yang mungkin harus diperhatikan pada anjing yang terinfeksi parasit darah:

  • Demam
  • Letargi
  • Kehilangan nafsu makan
  • Muntah
  • Diare
  • Anemia (terutama pada infestasi cacing jantung dan babesia)
  • Kesulitan bernapas
  • Gangguan pada sistem saraf

Terkadang, infeksi parasit darah dapat menyebabkan kerusakan permanen di organ-organ vital anjing, seperti jantung, paru-paru, dan ginjal, jika tidak diobati dengan cepat.

Pencegahan dan Pengobatan

Pencegahan adalah kunci untuk melindungi anjing dari parasit darah. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk melindungi anjing sebagai berikut:

  1. Pemberian Obat Cacing Rutin. Rutin memberikan obat cacing sesuai petunjuk dokter hewan adalah cara yang efektif untuk mencegah infestasi cacing jantung dan cacing usus lainnya.
  2. Penggunaan Obat Antinyamuk dan Antikutu. Menggunakan obat antinyamuk dan antikutu secara teratur dapat membantu mencegah transmisi parasit seperti cacing jantung, babesia, anaplasma, dan ehrlichia.
  3. Melakukan pemeriksaan rutin pada anjing oleh dokter hewan dapat membantu mendeteksi infestasi parasit darah secara dini dan memulai pengobatan dengan cepat. 

Bagi anda yang tidak memiliki waktu untuk melakukan konsultasi, Anda dapat menghubungi  dokter hewan terdekat melalui layanan call center Pet Care. Dokter hewan terdekat dari lokasi Anda akan langsung datang ke rumah dan melakukan pemeriksaan langsung.

  1. Vaksinasi. Beberapa jenis parasit darah memiliki vaksin yang tersedia untuk membantu melindungi anjing dari infeksi. 

Sekarang vaksin anjing tak perlu keluar rumah. Pet Care menyediakan layanan vaksinasi yang siap datang ke rumah. Tenaga medis dari Pet Care bersertifikat lengkap dan berpengalaman. Dengan menggunakan layanan Pet Care, dapat memberikan pencegahan terhadap infeksi parasit darah pada anjing.

Parasit darah pada anjing adalah penyakit serius yang dapat berakibat fatal jika tidak diobati. Dengan mengetahui gejala, cara diagnosis, dan cara pengobatan, Anda dapat membantu menjaga anjing Anda tetap sehat dan terhindar dari parasit darah.

Yuk, cegah parasit darah dengan menggunakan layanan dari Pet Care. Jangan ragu hubungi kami.

Kucing Jantan Birahi? Berikut Tips Efektif Mengatasinya

Kucing jantan yang sedang birahi dapat menunjukkan berbagai perilaku yang tidak diinginkan, seperti menggonggong berlebihan, spraying, bahkan menjadi agresif. Hal ini tentu dapat mengganggu ketenangan dan keamanan di rumah.

Namun, dengan penanganan yang tepat, mengatasi masa birahi kucing jantan bukan perkara yang sulit. Berikut adalah beberapa tips yang efektif untuk mengatasi kucing jantan yang sedang birahi.

1. Kastrasi

Salah satu cara paling efektif untuk mengatasi masalah birahi pada kucing jantan adalah dengan menjalani prosedur kastrasi. Kastrasi adalah proses pembedahan untuk mengangkat testis kucing, yang mengurangi produksi hormon testosteron dan menghilangkan dorongan seksual. 

Kastrasi tidak hanya efektif untuk mencegah reproduksi yang tidak diinginkan, tetapi juga dapat membantu mengurangi gejala-gejala birahi, seperti:

  • Menghilangkan perilaku birahi seperti menggonggong berlebihan, menandai wilayah, dan agresivitas.
  • Mengurangi risiko penyakit prostat dan testis pada kucing.
  • Meningkatkan harapan hidup kucing.

2. Latihan Fisik dan Olahraga yang Cukup

Memberikan latihan fisik dan olahraga yang cukup pada kucing yang sedang birahi adalah salah satu cara terbaik untuk membantu mengalihkan energi mereka. Berjalan-jalan, berlari, atau bermain dengan mainan interaktif dapat membantu mengurangi kegelisahan dan ketegangan yang mungkin mereka rasakan selama masa birahi. Pastikan untuk memberikan latihan yang memadai setiap hari, sesuai dengan kebutuhan dan tingkat energi kucing.

3. Stimulasi Mental Kucing Jantan Birahi

Selain latihan fisik, penting juga untuk memberikan stimulasi mental kepada kucing saat birahi. Mainan interaktif, teka-teki makanan, atau permainan pencarian adalah cara yang bagus untuk menjaga kucing tetap sibuk dan terlibat secara mental. Ini tidak hanya membantu mengalihkan perhatian mereka dari dorongan seksual, tetapi juga memberikan kesempatan untuk belajar dan berkembang.

4. Pisahkan dari Kucing Betina  

Jika Anda memiliki kucing betina di rumah dan tidak ingin berakhir dengan kehamilan, pastikan untuk memisahkan mereka selama masa birahi. Ini dapat dilakukan dengan menjaga mereka di ruangan terpisah atau menggunakan pagar yang terpisah di halaman belakang. Hal ini penting untuk mencegah perkawinan yang tidak direncanakan dan untuk memastikan bahwa kedua kucing tetap aman dan terlindungi.

5. Konsultasikan dengan Dokter Hewan

Jika memiliki masalah yang serius dengan kucing jantan birahi, penting untuk berkonsultasi dengan dokter hewan. Mereka dapat memberikan saran yang spesifik untuk situasi dan mungkin merekomendasikan strategi tambahan seperti penggunaan obat-obatan atau terapi perilaku.

Jangan langsung terburu-buru mengambil tindakan kastrasi. Dokter hewan juga dapat membantu memutuskan apakah kastrasi adalah pilihan terbaik untuk kucing.

Kucing jantan yang sedang birahi akan sensitif jika harus dibawa ke pet shop. Pet Care menyediakan layanan dokter hewan terdekat yang bisa dihubungi melalui call center. Pet Care akan langsung mencarikan dokter hewan terdekat dari lokasi Anda. 

Layanan home visit ini memberikan kenyaman bagi pemilik dan hewan kesayangan ketika ingin berkonsultasi atau perawatan semasa kucing birahi. Jangan ragu hubungi kami.

Waspada Alergi pada Anjing Ini Dapat Menyebabkan Kerontokkan

Alergi pada anjing merupakan salah satu masalah kesehatan umum terjadi. Salah satu efek samping alergi yang sering terlihat adalah kerontokan bulu. 

Kerontokan pada bulu anjing adalah masalah umum yang seringkali menjadi perhatian bagi para pemilik hewan peliharaan. Namun, kadang-kadang kerontokan tersebut dapat menjadi hasil dari reaksi alergi yang dialami oleh anjing.

Untuk memahami lebih lanjut tentang bagaimana alergi dapat menyebabkan kerontokan pada anjing dan bagaimana menanganinya, berikut adalah informasi yang perlu diketahui.

Alergi sebagai Penyebab Kerontokan pada Anjing

Alergi pada anjing dapat menyebabkan kerontokan bulu yang lebih parah dari biasanya. Beberapa alergen yang umum dapat menjadi pemicu kerontokan bulu pada anjing meliputi:

  • Alergen Lingkungan: Serbuk sari, tungau debu, jamur, dan bulu hewan lainnya adalah contoh alergen lingkungan yang dapat menyebabkan reaksi alergi pada anjing.
  • Alergi Makanan: Komponen tertentu dalam makanan anjing, seperti protein hewani atau bahan tambahan makanan, juga dapat menjadi pemicu alergi yang menyebabkan kerontokan bulu.
  • Alergi kutu: Gigitan kutu dapat menyebabkan reaksi alergi pada anjing, yang dapat menyebabkan kerontokan bulu, gatal-gatal, dan kemerahan kulit.
  • Alergi kontak: Alergi kontak dapat terjadi ketika kulit anjing berkontak dengan zat tertentu, seperti bahan kimia, parfum, atau pewarna.

Gejala Alergi yang Menyebabkan Kerontokan

Selain kerontokan bulu yang berlebihan, anjing dengan alergi juga mungkin menunjukkan gejala lain, termasuk:

  • Gatal-gatal yang parah, yang bisa menyebabkan anjing menggaruk atau menjilat dirinya secara berlebihan.
  • Kemerahan pada kulit atau munculnya ruam yang terjadi di berbagai bagian tubuh.
  • Peradangan pada telinga, yang ditandai dengan menggeleng-gelengkan kepala atau menggaruk telinga.

Cara Mengatasi Alergi pada Anjing yang Menyebabkan Kerontokan Bulu

Mengatasi alergi pada anjing yang menyebabkan kerontokan bulu membutuhkan konsistensi dan kesabaran, seperti:

  • Mengidentifikasi alergen: Langkah pertama adalah mengidentifikasi apa yang memicu alergi pada anjing. Dokter hewan dapat membantu melakukan tes alergi untuk mengetahui alergi yang mendasarinya.
  • Menghindari alergen: Setelah mengetahui alergennya, langkah selanjutnya adalah sebisa mungkin menghindari paparan terhadap alergen tersebut. Hal ini mungkin termasuk mengubah pola makan anjing, menghilangkan alergi dari lingkungan rumah, atau menggunakan obat pengusir kutu secara teratur.
  • Memberikan pengobatan: Dokter hewan akan meresepkan obat untuk membantu meredakan gejala alergi anjing Anda, seperti antihistamin, kortikosteroid, atau obat pengurang gatal.
  • Memperbaiki kesehatan kulit: Perawatan kulit yang tepat, seperti penggunaan sampo khusus anjing alergi dan pelembab kulit, dapat membantu memperbaiki kesehatan kulit anjing dan mengurangi kerontokan bulu. Memandikan anjing secara teratur dengan sampo khusus anjing alergi dapat membantu mengurangi alergen di bulunya
  • Menjaga Kebersihan Lingkungan: Menjaga kebersihan rumah secara teratur dengan vacuum cleaner dan kain basah dapat membantu menghilangkan alergen dari lingkungan rumah. Perbanyak mainan dan aktivitas yang dapat membantu mengalihkan perhatian anjing dari rasa gatal dan menggaruk.

Jika anjing menunjukkan tanda-tanda alergi segera hubungi dokter hewan terdekat atau menghubungi layanan call center Pet care. Layanan home visit ini memberikan kenyaman bagi pemilik dan hewan kesayangan ketika ingin berkonsultasi atau perawatan di rumah saja.

Agar anjing selalu sehat, terawat dan bersih dari alergi yang menyebabkan kerontokkan, pastikan selalu grooming secara rutin. Kini Grooming anjing tidak perlu repot harus ke luar rumah. 

Pet Care menyediakan layanan grooming kucing dan anjing yang bisa datang ke rumah khusus Area Jakarta. Grooming menjadi mudah dan praktis tanpa ribet dengan groomer profesional.

Pesan sekarang melalui layanan Pet Care dan nikmati pelayanan grooming oleh profesional yang siap datang ke rumah.

Jangan ragu hubungi kami. 

Waspada Stres! Berikut Tindakan Tepat Setelah Kucing Vaksin

Setelah kucing vaksin penting untuk memperhatikan hal berikut!

Vaksinasi adalah salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan kucing peliharaan. Namun, setelah menjalani prosedur ini, beberapa kucing mungkin mengalami beberapa efek samping seperti kelesuan, kehilangan nafsu makan, dan bahkan sakit.

Ini adalah respons alami dari tubuh mereka terhadap perubahan tubuh mereka. Untungnya, artikel ini akan membahas beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu pemulihan setelah kucing vaksin dengan cepat dan merasa nyaman.

Yuk, pelajari bersama!

Perlu diketahui beberapa hal berikut ternyata dapat memicu stres pada kucing setelah vaksinasi.

1. Efek Samping Vaksin

Vaksinasi dapat menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan di tempat suntikan. Hal ini dapat membuat kucing enggan untuk bergerak atau berbaring. Kemudian demam adalah efek samping umum dari vaksinasi. Demam dapat membuat kucing merasa lemas dan kehilangan nafsu makan.

Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, kucing mungkin mengalami reaksi alergi terhadap vaksin. Gejala alergi dapat berupa gatal-gatal, pembengkakan, atau kesulitan bernapas.

2. Lingkungan

Perjalanan ke dokter hewan dapat membuat kucing stres, terutama jika mereka tidak terbiasa bepergian dengan mobil atau keranjang.

Selain itu, ruang tunggu pemeriksaan juga dapat memicu kucing stres. Ruang pemeriksaan dokter hewan mungkin penuh dengan bau dan suara asing yang dapat membuat kucing stres.

Keberadaan hewan lain juga dapat mengintimidasi kucing sehingga membuat mereka takut. Jika kucing tidak terbiasa dengan hewan lain, mereka akan merasa stres berada di ruang tunggu dokter hewan dengan hewan lain.

3. Perubahan Rutinitas

Disarankan untuk tidak memandikan kucing selama 2 minggu setelah vaksinasi. Hal ini karena mandi dapat memperburuk rasa sakit dan ketidaknyamanan di tempat suntikan.

Perubahan pola makan mungkin dialami kucing setelah vaksin, Kucing mungkin kehilangan nafsu makan setelah vaksinasi. Jika hal ini terjadi, tawarkan mereka makanan kecil dan sering daripada makanan besar.

Setelah vaksin, kucing akan merasa lemas dan tidak ingin bermain setelah vaksinasi. Hal ini normal, dan biarkan mereka beristirahat sebanyak yang dibutuhkan.

Untuk meminimalisir stres pada kucing setelah vaksin, berikut tips yang bisa dilakukan.

1. Bawa Pulang Dengan Tenang Setelah Kucing Vaksin

Setelah mendapatkan vaksinasi, pastikan kucing memiliki ruang yang tenang dan nyaman untuk beristirahat. Bawa kucing pulang dengan tenang. Hindari berbicara dengan kerat atau membuat gerakan tiba-tiba.

Setelah di rumah, pisahkan dari hewan peliharaan lain dan tempatkan di tempat yang tenang. Hal ini dapat membuat mereka pulih tanpa stres.

2. Berikan Makanan dan Minuman 

Setelah vaksinasi, pastikan kucing mendapat makanan dan minuman segar. Beberapa kucing mungkin tidak langsung makan atau minum setelah vaksinasi karena stres, tetapi sediakan makanan atau camilan jika dibutuhkan.

3. Berikan Perhatian dan Kasih Sayang

Saat kucing pulih, berikan perhatian ekstra dan kasih sayang. Sentuhan lembut dan bicara yang tenang dapat membantu mengurangi stres dan memberikan rasa aman pada kucing. Hindari aktivitas yang terlalu berisik atau berlebihan yang dapat meningkatkan kecemasan mereka.

Setiap kucing bereaksi berbeda terhadap vaksinasi dan stres. Berikan waktu yang cukup bagi kucing Anda untuk pulih sepenuhnya. Jangan terlalu tergesa-gesa dalam memperkenalkan mereka kembali ke rutinitas normal.

4. Hindari Aktivitas Fisik yang Berat

Setelah vaksinasi, hindari aktivitas fisik yang berat atau stres lainnya untuk kucing. Biarkan mereka beristirahat dan pulih sepenuhnya sebelum kembali beraktivitas seperti biasa.

Untuk mengalihkan perhatian kucing dari stres pasca-vaksinasi, berikan mainan atau hiburan yang sesuai. Mainan yang berisi makanan atau mainan yang dapat dikejar dapat membantu mengalihkan perhatian mereka dan memberikan stimulasi mental yang positif.

5. Pantau Kondisi Kesehatan

Pantau kucing untuk melihat tanda-tanda reaksi yang tidak biasa setelah vaksinasi. Ini termasuk kelemahan berlebihan, muntah, diare, atau pembengkakan yang tidak biasa di area suntikan. 

Jika Anda memiliki kekhawatiran tentang reaksi kucing terhadap vaksinasi atau jika stresnya berlanjut, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan  dokter hewan terdekat melalui layanan call center Pet Care. Dokter hewan terdekat dari lokasi Anda akan langsung datang ke rumah. Mereka akan memberikan saran yang tepat dan memberikan solusi untuk kesembuhan kucing tercinta.

Agar kucing tidak mengalami stres setelah vaksin, sekarang vaksin kucing tak perlu keluar rumah. Pet Care menyediakan layanan vaksinasi yang siap datang ke rumah. Tenaga medis dari Pet Care bersertifikat lengkap dan berpengalaman.

Setelah vaksin kucing tidak akan stres selama di perjalanan pulang. Vaksin kucing jadi lebih mudah dan dapat dilakukan langsung di rumah atau lokasi Anda.

Layanan home visit ini memberikan kenyaman bagi pemilik dan hewan kesayangan ketika ingin berkonsultasi atau perawatan dari rumah. Jangan ragu hubungi kami.