Bulu Kucing Mudah Rontok? Simak Cara Ampuh Mengatasinya!

Apakah kucing kesayangan Anda mengalami kerontokan bulu secara terus-menerus, terlalu banyak, bahkan terlihat tidak normal? Sebenarnya banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan bulu kucing.

Umumnya, kerontokan ini disebabkan oleh alergi, parasit seperti kutu atau tungau, infeksi jamur, stres hingga kecemasan berlebih. Namun kerontokan pada bulu-bulu kucing juga dapat sebabkan oleh faktor langka yang berkaitan dengan genetika, sistem kekebalan tubuh, dan masalah kesehatan.

Untuk mengetahui penyebab pasti mengapa bulu kucing peliharaan Anda mengalami kerontokan parah sebaiknya mintalah bantuan dokter hewan. Pet-Care menyediakan layanan dokter hewan terdekat yang dapat membantu Anda dalam melakukan pemeriksaan terkait rontoknya bulu kucing.

Anda dapat dengan mudah memperoleh layanan dokter hewan terdekat tanpa perlu keluar rumah. Cukup hubungi Call Center Pet-Care dan Anda sudah dapat terhubung dengan dokter hewan bersertifikasi juga berpengalaman.

Gejala Bulu Kucing Rontok Yang Perlu Diwaspadai
  • Kucing berlebihan ketika menjilat dan menggaruk tubuhnya
  • Bulu terlihat menipis
  • Perubahan warna kulit
  • Muncul kemerahan pada kulit
  • Kulit kucing tampak menebal
Cara Mengatasi Bulu Kucing Rontok

Penanganan secara mandiri dapat dilakukan dengan cara mengurangi grooming atau perawatan bulu kucing yang berlebihan. Namun bukan berarti tidak memandikan kucing sama sekali, kucing dengan bulu rontok tetap harus mandi secara rutin untuk menjaga kebersihan tubuhnya.

Jika kerontokan disebabkan oleh kutu, Anda dapat menggunakan obat kutu untuk mengatasinya. Selain itu, Anda juga dapat mengganti produk makanan kucing yang membantu mengatasi kerontokan bulu.

Jika penanganan mandiri tidak membuahkan hasil, segera kunjungi dokter hewan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Sebelumnya dokter hewan akan melakukan pemeriksaan secara lengkap terlebih dahulu. Mulai dari pemeriksaan darah, pemeriksaan fungsi tiroid, hingga pemeriksaan urin.

Kemudian dokter hewan akan menyarankan pengobatan yang paling cocok untuk kucing kesayangan Anda. Berikut adalah beberapa jenis pengobatan kucing dengan bulu rontok menurut Pet MD.

  • Perawatan parasitisida untuk menghilangkan parasit bulu (kutu atau tungau) yang telah diresepkan untuk kucing selama 8 minggu ke depan
  • Pengobatan topikal dengan sampo khusus atau salep
  • Pemberian antibiotik sistemik atau anti jamur
  • Resep makanan untuk 8 hingga 12 minggu ke depan, apabila rontok disebabkan oleh alergi makanan.
  • Serta pemberian obat untuk mengurangi rasa gatal dan mengubah perilaku serta gaya hidup untuk lebih memerhatikan kebersihan tempat makan minu, kotak pasir, juga mainan kucing.

7 Penyakit Anjing Tua Yang Perlu Diwaspadai

Pertambahan usia kadangkala memberikan perubahan pada anjing kesayangan yang kita pelihara. Mulai dari perubahan perilaku, suasana hati, hingga kesehatan. Perubahan kesehatan sering dialami oleh anjing yang telah berusia lanjut. Seekor anjing digolongkan sebagai anjing tua ketika telah menginjak usia 7 tahun.

Umumnya, anjing dengan ras besar cenderung memiliki usia lebih pendek jika dibandingkan dengan anjing dengan ras kecil. Tetapi panjangnya usia anjing turut dipengaruhi oleh berbagai faktor lain yang berkaitan dengan kesehatan. Sehingga dokter hewan sangat menyarankan para pemilik anjing yang telah berusia lanjut untuk memeriksakan kesehatan anjing mereka, minimal 2 kali dalam setahun.

Layanan dokter hewan terdekat dari Pet-Care dapat membantu Anda untuk melakukan pemeriksaan kesehatan anjing berusia lanjut. Cukup dengan menghubungi Call Center Pet-Care, Anda dapat terhubung dengan dokter hewan terdekat tanpa perlu keluar rumah. Selain itu, Anda juga tidak perlu khawatir karena dokter hewan Pet-Care telah bersertifikat dan berpengalaman.

Perlu diwaspadai oleh para pemilik hewan, berikut ini adalah 7 penyakit yang dapat menyerang kesehatan anjing tua dilansir dari laman Pet MD.

1. Radang Sendi

Arthritis atau radang sendi terjadi akibat adanya kerusakan pada tulang rawan yang bertindak sebagai penyangga diantara persendian. Radang sendi dapat menyebabkan pembengkakan, kekakuan, dan nyeri di sekitar area radang. Gejala yang timbul akibat radang sendi adalah pincang atau perubahan cara berjalan dan kesulitan ketika bergerak, berdiri, atau berjalan. Anjing dengan radang sendi biasanya akan menunjukkan perilaku menjilati atau menggigit-gigit area sendi yang sakit, serta bersifat lebih mudah marah dan agresif.

2. Radang Gusi

Gingivitis atau radang gusi biasanya merupakan awal dari penyakit gusi. Peradangan gusi terjadi akibat bakteri pada mulut yang berubah menjadi plak atau karang gigi. Jika dibiarkan, plak yang menyebar di area gusi lama kelamaan akan menimbulkan pembengkakan. Kemudian, pembengkakan yang dibiarkan saja tanpa penanganan lebih lanjut dapat menyebabkan gusi terlepas, infeksi, hingga gigi keropos. Gejala yang timbul ketika anjing mengalami radang gusi adalah gusi berdarah, lunak, merah, dan juga bengkak. Radang gusi perlu diwaspadai karena dapat menyebarkan infeksi pada aliran darah dan menjadi penyebab kerusakan serius pada organ tubuh anjing.

3. Diabetes

Diabetes terjadi akibat produksi dan fungsi insulin yang abnormal. Seringkali diabetes dialami pada anjing ketika berusia 8 atau 9 tahun. Ras anjing yang rentan terkena diabetes adalah Samoyed, Cairn Terrier, Pugs, Toys Poodles, dan Miniature Schnauzers. Gejala yang dapat dikenali pada anjing dengan diabetes adalah sering harus, intensitas buang air meningkat, penurunan berat badan, kelelahan, mudah marah, infeksi berulang, pengliharan kabur, serta luka dan memar yang sulit sembuh.

4. Kebutaan

Kebutaan pada anjing tidak terjadi secara langsung, tetapi penurunan kualitas penglihatan yang berangsur memburuk dari waktu ke waktu. Tanda awal dari kebutaan biasanya adalah katarak. Anjing yang mengalami kebutaan dapat dikenali melalui perubahan perilaku seperti sering menabrak benda, sering terjatuh, pupil mata melebar, mata merah, dan iritasi.

5. Penyakit Ginjal

Banyak hal yang mengakibatkan ginjal gagal melakukan tugasnya (gagal ginjal). Salah satunya adalah batu ginjal yang menyumbat saluran kemih. Anjing dengan gejala batu ginjal biasanya akan minum lebih banyak air, buang air kecil lebih banyak, menunjukkan sikap apatis, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, muntah, perubahan warna lidah, hingga terciumnya bau amonia pada hembusan napas anjing.

6. Kanker

Kanker menjadi salah satu penyakit yang paling umum terjadi pada anjing tua. Selain itu, kanker juga menjadi penyebab utama kematian pada anjing. Tes darah sulit untuk mendeteksi kanker pada anjing, sehingga perlu diamati adakah benjolan-benjolan tertentu pada tubuh anjing, perubahan berat badan, luka yang sulit sembuh, sering terengah-engah, kesulitan makan, atau kelelahan ekstrim. Tanda lain yang perlu diwaspadai yaitu diare, sembelit, dan munculnya darah atau lendir pada feses. Pengobatan kanker pada anjing akan berhasil jika ditangani sedini mungkin.

7. Demensia

Demensia merupakan kondisi medis yang mengakibatkan penderitanya kehilangan ingatan, mengalami perubahan kepribadian, merasa kebingungan dan disorientasi. Gejala demensia pada anjing dapat dikenali ketika anjing melupakan mainan yang telah dikenanya sekian lama. Anjing tua dengan demensia juga mungkin akan melupakan beberapa permainan yang biasa dimainkan dengan pemiliknya, melupakan nama mereka, lebih sering melamun dan melakukan kegiatan berulang seperti mondar-mandir atau berjalan berputar-putar.

Kucing Makan Terus tapi Tetap Kurus? Dokter Hewan: 6 Hal Ini Bisa Jadi Penyebabnya 

Sebagai pemilik hewan peliharaan, mengkhawatirkan bila melihat kucing kesayangan kita terlihat kurus. Padahal, pemberian pakan telah dilakukan secara rutin setiap harinya. Serta kucing nampak selalu nafsu makan dan sering mengeong untuk meminta makan.

Kucing kurus ditandai dengan kondisi fisik tulang rusuk dan tulang punggung yang timbul dan teraba dengan jelas. Juga terdapat cekungan yang dalam pada tubuh bagian pinggang.

Sering makan namun tubuh tetap kurus pada kucing bisa jadi tanda adanya penyakit. Berikut adalah 6 penyakit yang mungkin terjadi jika kucing sering makan tetapi tubuhnya tetap terlihat kurus menurut Dokter Hewan Maulana Ar Raniri Putra (ArRan).

1. Cacingan

Investasi parasit atau yang kerap disebut sebagai cacingan menyebabkan proses penyerapan nutrisi pada tubuh kucing jadi terganggu. Akibatnya kucing akan terus merasa lapar dan banyak makan, tapi tubuhnya tetap terlihat kecil tidak berisi. Maka pastikan untuk selalu memberikan kucing kesayangan Anda obat cacing secara rutin. Pemberian obat cacing pada kucing dapat dilakukan melalui layanan dokter hewan terdekat dari Pet-Care dengan menghubungi Call Center Pet-Care.

2. Diabetes Melitus

Saat ini penyakit diabetes melitus menjadi salah satu penyakit endokrin yang sedang marak terjadi. Penyebabnya tidak lain adalah karena obsesi para pemilik hewan peliharaan, khususnya kucing yang ingin hewan peliharaanya terlihat gemuk karena dianggap lebih menggemaskan.

3. Tiroid

Hyperthyroidism merupakan penyakit pada kucing yang terjadi akibat adanya gangguan pada kelenjar tiroid. Penyakit ini menyebabkan produksi hormon tiroid menjadi berlebihan. Hormon tiroid sendiri berfungsi untuk mengatur metabolisme tubuh, sehingga kucing yang mengidap tiroid metabolisme tubuhnya akan jauh lebih cepat. Inilah yang mengakibatkan kucing terus merasa kelaparan namun tubuhnya tetap kurus. Selain tubuh yang terlihat kurus, tiroid juga ditandai dengan kucing yang hiperaktif dan jantung berdebar lebih kencang.

4. Kanker

Kanker pada kucing seringkali sulit untuk didiagnosa, khususnya pada kanker stadium awal. Hal ini terjadi akibat perilaku kucing yang sangat ahli dalam menyembunyikan rasa sakit. Gejala utama yang seringkali terlihat pada kucing dengan kanker adalah tubuhnya yang semakin lama semakin kurus.

5. Kesalahan Pemberian Makanan

Pemberian makanan yang kurang tepat dapat menjadi penyebab kucing menjadi kurus dan terus merasa lapar. Hal ini terjadi karena ketidakseimbangan nutrisi dalam tubuh. Sehingga nutrisi yang diserap oleh tubuh kucing dari makanannya hanya sedikit. Maka pemilik hewan perlu memperhatikan bagaimana komponen nutrisi utama dan komposisi yang seimbang pada makanan kucing.

6. Kucing Tua

Tubuh kurus menjadi hal yang umum terjadi pada kucing tua karena tubuhnya mengalami penyusutan massa otot. Namun, hal ini dapat diatasi dengan pemberian makanan yang sesuai dengan usia kucing.

Penyebab Lain dari Kucing Kurus

Berikut adalah penyakit lain yang menjadi penyebab kucing kurus dilansir dari laman Pets Web MD.

  • Kecemasan, stres, atau depresi yang diakibatkan oleh kebisingan lingkungan sekitar atau tempat tinggal kucing yang kotor.
  • Penyakit kencing manis yang disebabkan oleh kegagalan produksi hormon insulin.
  • Peritonis menular atau FIP.
  • Masalah pencernaan yang ditandai dengan gejala diare, nafsu makan berkurang, atau muntah-muntah.
  • Gagal ginjal.
  • Tumor jinak.
  • Sakit gigi dan mulut, atau radang gusi yang ditandai dengan keluarnya air liur secara terus-menerus dari mulut kucing.
Penanganan Kucing Kurus

Apabila kondisi berat badan kucing semakin mengkhawatirkan sebaiknya periksakan kucing kesayangan Anda pada dokter hewan terdekat. Biasanya setelah pemeriksaan awal akan dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti tes sampel darah, urin, feses, hingga rontgen bila diperlukan.

Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan melalui layanan dokter hewan terdekat dari Pet-Care. Anda dapat menghubungi Call Center Pet-Care untuk kemudian terhubung langsung dengan dokter hewan terdekat tanpa perlu keluar rumah. Tidak perlu khawatir, dokter hewan Pet-Care telah bersertifikat serta berpengalaman.

Bola Mata Kucing Membesar? Segera Tangani Agar Terhindar dari Kebutaan

Glaukoma merupakan suatu kondisi dimana terjadi peningkatan cairan di dalam bola mata kucing. Sehingga bola mata kucing terlihat membesar di satu sisi. Keluhan bola mata membesar di satu sisi yang disertai dengan kornea mata terlihat keruh, menandakan terjadinya peningkatan tekanan bola mata. 

Glaukoma juga dapat menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman pada kucing. Kucing dengan diagnosa Glaukoma biasanya akan terlihat lebih banyak diam dan tidak nyaman ketika area bola matanya disentuh. Konsultasi pengobatan Glaukoma dapat dilakukan melalui layanan dokter hewan terdekat dari Pet-Care dengan menghubungi Call Center atau mengunjungi laman media sosial Instagram Pet-Care.

Sebagai upaya antisipasi dan pencegahan, berikut adalah penyebab, gejala-gejala, dan pengobatan Glaukoma pada kucing yang telah Pet-Care rangkumkan untuk para pemilik hewan peliharaan.

Penyebab Glaukoma pada Kucing

Hills Pet memaparkan bahwa penyebab Glaukoma pada kucing terbagi menjadi dua, yaitu Glaukoma Primer dan Glaukoma Sekunder. Glaukoma Primer disebabkan oleh ketidakmampuan mata kucing dalam mengalirkan cairan, sedangkan Glaukoma Sekunder disebabkan oleh adanya suatu penyakit yang menghalangi aliran normal cairan pada mata. 

Selain itu, terdapat juga beberapa penyakit yang menyebabkan Glaukoma pada kucing. Diantaranya yaitu neoplasia (pertumbuhan jaringan tidak normal), uveitis anterior (peradangan bagian depan mata), dan pendarahan pada mata bagian dalam yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi atau trauma tertentu. 

Konsultasi pengobatan Glaukoma dapat dilakukan melalui layanan dokter hewan terdekat dari Pet-Care dengan menghubungi Call Center atau mengunjungi laman media sosial Instagram Pet-Care.

Gejala Glaukoma pada Kucing

Dilansir melalui laman Pets Web MD, berikut adalah gejala-gejala Glaukoma pada kucing yang dapat dikenali oleh para pemilik hewan.

  • Nyeri di sekitar mata
  • Pupil melebar, tidak bergerak, atau bergerak lambat
  • Kemerahan di bagian putih mata
  • Pembengkakan dan perubahan warna pada kornea
  • Bola mata membesar 

Apabila menemukan gejala-gejala tersebut pada kucing kesayangan Anda, segera hubungi dokter hewan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Pet-Care menghadirkan layanan dokter hewan terdekat yang datang langsung ke rumah atau ke lokasi Anda. Cukup dengan menghubungi Call Center Pet-Care, Anda sudah dapat terhubung dengan dokter hewan terdekat tanpa perlu repot keluar rumah. 

Kadangkala sulit untuk mendeteksi kucing terkena Glaukoma atau tidak. Hal ini dikarenakan perkembangan kondisi Glaukoma terjadi dalam jangka waktu yang lama, hitungan bulan bahkan lebih. Sulitnya mendeteksi penyakit ini juga dipengaruhi oleh perilaku kucing yang tetap berperilaku normal meskipun matanya tidak nyaman. 

Namun, pada kasus Glaukoma yang berkaitan dengan uveitis atau radang mata akan lebih mudah terdeteksi. Hal ini dikarenakan kucing mungkin akan menunjukkan tanda-tanda kesakitan, berbeda dengan Glaukoma pada umumnya. 

Pengobatan Glaukoma pada Kucing

Menurut Dokter Hewan Tammy Hunter dan Dokter Hewan Cherly Yuill, penanganan Glaukoma pada kucing perlu dilakukan dengan cara mengurangi cairan pada bola mata sesegera mungkin. Hal ini bertujuan agar risiko kerusakan permanen atau kebutaan dapat dihindari. Namun pada kondisi Glaukoma lebih parah kemungkinan dokter hewan akan melakukan pembedahan dan pengangkatan mata. 

Biasanya, dokter hewan akan meresepkan Analgesik untuk mengurangi rasa sakit dan tidak nyaman pasca perawatan medis. Juga obat-obatan lain yang berguna untuk mengurangi produksi cairan pada mata. Konsultasi pengobatan Glaukoma dapat dilakukan melalui layanan dokter hewan terdekat dari Pet-Care dengan menghubungi Call Center atau mengunjungi laman media sosial Instagram Pet-Care.

Reverse Sneezing atau Bersin Terbalik pada Anjing dan Kucing, Apakah Normal?

Reverse sneezing atau bersin terbalik adalah suatu kondisi yang tidak biasa pada anjing dan kucing ketika bersin. Kondisi bersin terbalik lebih sering dialami oleh anjing daripada kucing. Pada kondisi normal, anjing atau kucing yang bersin akan mengeluarkan bersin tersebut tetapi pada kondisi reverse sneezing bersin tidak dikeluarkan melainkan dihirup.

Dokter Hewan Krista Williams dari VCA Animal Hospitals mengatakan bahwa reverse sneezing merupakan kondisi yang berkaitan dengan respirasi paroksismal. Umumnya dikenal sebagai kondisi bersin terbalik. “Pada kondisi ini, anjing menghirup udara melalui hidung dengan cepat. Berbeda dengan bersin biasa yang mendorong udara keluar melalui hidung dengan cepat,” Kata Dokter Krista.

Melalui laman media sosial Tiktok, Dokter ArRan mengedukasi audiensnya tentang reverse sneezing pada anjing maupun kucing. Menurutnya, kondisi ini terjadi karena adanya iritan atau gangguan pada hidung, sinus, atau pangkal tenggorokan yang merangsang terjadinya bersin terbalik. Kondisi ini juga biasanya dipicu oleh adanya mites atau tungau, debu, rumput, maupun bulu anjing atau kucing itu sendiri pada bagian-bagian tersebut. 

Pet MD mengungkap kemungkinan lain yang menyebabkan iritasi yang memicu terjadinya bersin terbalik pada anjing maupun kucing. Diantaranya yaitu alergi, produk rumah tangga (pengharum, pembersih, atau penyegar udara), terdapat benda asing di tenggorokan, juga makanan atau minuman yang dikonsumsi.

Konsultasi mengenai kondisi bersin terbalik pada anjing atau kucing kesayangan dapat dilakukan melalui layanan dokter hewan terdekat dari Pet-Care dengan menghubungi Call Center Pet-Care.

Normalkah Anjing atau Kucing Mengalami Reverse Sneezing?

Sebenarnya, reverse sneezing atau bersin terbalik adalah hal normal dan tidak berbahaya bagi anjing atau kucing. Tetapi jika terjadi secara terus-menerus, kondisi ini dapat mengiritasi saluran hidung, sinus, atau pangkal tenggorokan. 

Jika anjing atau kucing kesayangan Anda mengalami bersin terbalik dalam jangka waktu yang lama dan terjadi secara terus-menerus. Sebaiknya hubungi dokter hewan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Dokter hewan akan memberikan anti inflamasi, anti radang, atau anti histamin untuk mengurangi gejala-gejala dari bersin terbalik pada anjing atau kucing.

Konsultasi pemberian obat-obatan ini dapat dilakukan melalui layanan dokter hewan terdekat dari Pet-Care tanpa perlu keluar rumah. Cukup menghubungi Call Center Pet-Care, layanan dokter hewan langsung ke rumah atau lokasi Anda.

Penanganan Mandiri Reverse Sneezing oleh Pemilik Hewan

Sebelum membawa anjing atau kucing ke dokter hewan, pemilik hewan peliharaan juga dapat mengaplikasikan penanganan mandiri berikut ini untuk mengurangi kebiasaan bersin terbalik pada anjing maupun kucing. 

  1. Menengadahkan kepala anjing atau kucing ke arah atas
  2. Tenangkan anjing atau kucing dengan mengusap-usap bagian leher anjing atau kucing saat kepalanya sedang ditengadahkan
  3. Menutup salah satu lobang hidung anjing atau kucing yang sedang mengalami reverse sneezing, namun hal ini opsional jadi dapat dilakukan dan juga tidak.

Selain cara-cara tersebut, pemilik hewan juga perlu memastikan kebersihan lingkungan tempat tinggal anjing dan kucing. Serta menjauhkan hewan peliharaan dari benda-benda atau hal yang memicu terjadinya bersin terbalik pada anjing maupun kucing.

Namun, jika penanganan mandiri tidak kunjung membawa kesembuhan bagi kucing maupun anjing. Segera hubungi dokter hewan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut seperti rontgen dada atau rinoskopi dari tenaga ahli. Anda dapat menggunakan layanan dokter hewan terdekat dari Pet-Care untuk berkonsultasi terkait hal ini. Konsultasi dapat dilakukan dengan menghubungi Call Center Pet-Care, tanpa perlu keluar rumah. 

Kucing Juga Bisa Menstruasi, Kenali Tanda-Tanda dan Penanganannya!

Berbeda dengan manusia yang mengalami menstruasi karena terjadinya prose peluruhan dinding rahim, kemudian berakhir pada proses pendarahan. Menstruasi pada kucing tidak selalu mengalami pendarahan karena pendarahan hanya salah satu dari efek samping siklus reproduksi pada kucing betina yang jarang terjadi.

Seperti mamalia betina pada umumnya, kucing juga memiliki siklus reproduksi. Pada kucing, siklus reproduksi ini disebut sebagai esterus atau umumnya dikenal sebagai masa birahi. Namun, masa reproduksi hanya akan dialami oleh kucing-kucing betina yang belum disteril.

Renee Rucinsky, seorang dokter hewan sekaligus ketua dari Dewan Praktisi Kedokteran Hewan Amerika mengatakan bahwa seekor kucing betina tidak mengalami menstruasi seperti manusia karena kucing merupakan hewan yang tergolong dalam ovulator yang diinduksi. Maka, kucing betina tidak akan berovulasi jika tidak mendapat rangsangan dari kucing jantan.

Sebagai pemilik hewan, penting untuk mengetahui serba-serbi menstruasi pada kucing. Berikut adalah waktu terjadinya menstruasi pada kucing betina, tanda-tanda yang muncul ketika kucing betina mengalami menstruasi, dan saran penanganan yang tepat pada kucing betina menstruasi.

Kapan Menstruasi Terjadi pada Kucing?

Melansir laman Purina, mentruasi atau siklus reproduksi kucing betina terjadi pertama kali pada usia 5 sampai 6 bulan. Namun waktu ini tidak selalu pasti, dapat terjadi lebih cepat atau lebih lambat bergantung pada kondisi tubuh kucing itu sendiri.

Siklus reproduksi kucing terjadi beberapa kali dalam setahun. Umumnya, 2 hingga 3 minggu dalam satu siklus yaitu di masa-masa subur kucing betina. Siklus ini akan terus berulang hingga akhirnya kucing betina hamil atau berakhir karena proses sterilisasi.

Tidak hanya masa subur, siklus reproduksi kucing juga dipengaruhi oleh faktor geografis dan lingkungan seperti suhu udara dan panjang waktu di siang hari. Kucing yang tinggal di daerah hangat dapat mengalami siklus reproduksi sepanjang tahun, sedangkan kucing yang tinggal di daerah dingin hanya mengalami siklus reproduksi pada awal musim dingin hingga akhir musim gugur.

Tanda-Tanda Kucing Menstruasi

Kucing menstruasi ditandai dengan beberapa perubahan perilaku, diantaranya yaitu:

  • Lebih sering melolong atau mengeong sebagai bentuk perilaku mencari pasangan kawin atau kucing jantan.
  • Sering menggosokkan badan pada benda-benda atau pada tubuh pemiliknya karena kucing betina pada siklus ini membutuhkan perhatian lebih.
  • Kucing menjadi lebih sering buang air kecil, karena urine kucing betina mengandung feromon dan hormon-hormon lain yang dapat memberikan sinyal siap bereproduksi atau siap kawin pada kucing jantan.
  • Terdapat sedikit darah seperti menstruasi pada manusia, namun tanda ini jarang terjadi.

Jika terjadi pendarahan secara terus-menerus dalam jumlah berlebih segera hubungi dokter hewan terdekat. Konsultasi ini dapat dilakukan dengan layanan dokter hewan terdekat dari Pet-Care dengan menghubungi Call Center Pet-Care.

Penanganan Kucing Menstruasi

Hills Pet mengungkap bahwa siklus reproduksi atau masa-masa birahi kucing dapat menimbulkan beberapa risiko penyakit, seperti kanker serviks, payudara, atau ovarium. Penyakit tersebut timbuh akibat adanya pertumbuhan hormon pada tubuh kucing betina.

Sehingga, steril menjadi langkah bijak untuk mengurangi risiko penyakit-penyakit tersebut juga berkontribusi dalam mengurangi populasi kucing yang berlebih. Steril dapat dilakukan sebelum kucing betina mengalami siklus reproduksi pertamanya.

Namun, untuk memastikan waktu steril yang tepat pada kucing kesayangan Anda sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu pada dokter hewan terdekat. Konsultasi ini dapat dilakukan dengan layanan dokter hewan terdekat dari Pet-Care dengan menghubungi Call Center Pet-Care.

HIV AIDS pada Kucing, Vaksinnya Belum Tersedia di Indonesia! Cegah dengan Steril

Feline immunodeficiency virus atau FIV merupakan infeksi virus pada kucing yang kerap disebut sebagai HIV atau AIDS pada kucing. Hal ini karena virus FIV dan HIV sama-sama menyerang sistem imun, FIV menyerang sistem imun kucing dan HIV menyerang sistem imun manusia.

Melansir laman Pets Web MD, virus ini pertama kali ditemukan pada kucing Amerika Serikat. Hal yang mengejutkan adalah kucing yang positif terinfeksi virus FIV sulit dideteksi karena dapat hidup selama bertahun-tahun tanpa menunjukkan gejala.

Virus FIV bekerja dengan cara merusak sel-sel dalam sistem kekebalan tubuh kucing, terutama sel darah putih. Kerusakan yang dilakukan oleh virus FIV secara terus-menerus dapat berakibat pada melemahnya sistem kekebalan tubuh kucing. Sehingga, tubuh kucing lebih rentan terhadap infeksi penyakit sekunder.

Bagi Anda yang memerlukan bantuan tenaga medis terutama dokter hewan dapat hubungi kami, melalui Call Center Pet-Care. Tidak perlu repot keluar rumah, kami menyediakan layanan dokter hewan terdekat dan menghadirkan pelayanan dokter hewan langsung ke lokasi Anda.

Virus FIV Masih Satu Keluarga dengan Virus HIV

Maulana Ar Raniri Putra, seorang dokter hewan yang kerap disapa Dokter ArRan memberikan edukasi seputar virus FIV pada kucing melalui laman media sosial Tiktok miliknya. FIV (Feline Immunodeficiency Virus) adalah virus pada kucing yang memiliki kekeluargaan dekat dengan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) pada manusia.

Virus FIV masih tergolong dalam genus dengan HIV-1 dan HIV-2. Kedekatan kedua virus ini mengakibatkan adanya persamaan gejala yaitu penurunan sistem imun, sama halnya dengan manusia yang terinfeksi HIV. 

Namun penularan FIV dan HIV tidak sama. Seperti yang kita ketahui, penularan HIV pada manusia salah satunya disebabkan oleh hubungan seksual. Sedangkan FIV pada kucing, penularan utamanya melalui gigitan yang dalam. Oleh sebab itu, virus FIV ini seringkali ditemukan pada stray cat yang sering berkelahi.

Gejala Virus FIV pada Kucing

Dokter ArRan juga memaparkan gejala dari virus FIV pada kucing yang terbagi menjadi 3 fase. 

Fase pertama yang disebut sebagai fase akut. Pada fase ini, kucing baru saja terinfeksi oleg virus FIV. Umumnya kucing akan memunculkan beberapa gejala klinis seperti demam, lesu, anoreksia (kehilangan nafsu makan), dan pembengkakan kelenjar pertahanan. Segera hubungi dokter hewan terdekat bila Anda mendapati gejala-gejala tersebut.

Fase kedua, disebut sebagai fase asymtopmatis. Pada fase ini, kucing yang terifeksi virus tidak menunjukkan gejala klinis dan terlihat sehat layaknya kucing normal. Namun fase ini akan berlangsung dalam kurun waktu yang lama. 

Fase ketiga yaitu fase Feline AIDS atau AIDS pada kucing. Pada fase ini, tubuh kucing menjadi sangat rentan terhadap infeksi sekunder. Pada fase ini juga, kucing akan menunjukkan beberapa gejala seperti flu yang tidak kunjung membaik dan infeksi pada gusi, lidah, atau langit-langit mulutnya. Selain itu, beberapa kucing juga menjadi sangat sensitif terhadap infeksi parasit darah (toksoplasma).

Pencegahan Virus FIV

Sebelumnya telah disebutkan bahwa penularan virus FIV terjadi melalui luka gigitan. Maka, pencegahan dapat dilakukan dengan mengawasi kucing agar tidak berkelahi dengan kucing lainnya.

Namun perlu diketahui bahwa salah satu faktor kucing berkelahi, terutama kucing jantan adalah memperebutkan kucing betina. Oleh karena itu, tindakan sterilisasi atau mengebiri kucing dapat dilakukan untuk mencegah penularan virus FIV.

Hingga saat ini, steril menjadi salah satu pencegahan virus FIV pada kucing paling efektif. Hal ini karena vaksinasi untuk virus FIV belum beredar di Indonesia. 

Anjing Tidak Nafsu Makan, Dokter Hewan: Indikator Masalah Medis hingga Makanan

Kekhawatiran kerap dihadapi oleh para pemilik hewan peliharaan, terutama ketika anjing kesayangan mereka kehilangan nafsu makan. Layaknya manusia, anjing juga dapat kehilangan nafsu makan. Melewatkan waktu makan dapat berakibat pada kurangnya asupan nutrisi hingga gangguan pada metabolisme tubuh.

Perubahan kebiasaan makan hewan juga dapat menjadi sebuah indikator adanya penyakit. Berikut adalah beberapa kemungkinan penyebab anjing tidak nafsu makan menurut dokter hewan yang perlu Anda ketahui.

Penyebab Anjing Tidak Nafsu Makan

Penurunan nafsu makan atau dalam dunia medis disebut sebagai hiporexia. Dokter Hewan Ellen Malmanger mengungkapkan beberapa kemungkinan penyebab dari kondisi hiporexia yaitu adanya masalah medis, masalah perilaku, atau masalah makanan. 

Penurunan nafsu makan akibat masalah medis adalah berbagai penyakit dengan gejala rasa sakit, mual, lesu, atau stress. Kemungkinan hilangnya nafsu makan pada anjing dikarenakan adanya penyakit gigi, sakit mulut, mual, muntah, diare, parasit usus, pankreatitis, sakit perut akibat salah konsumsi makanan, infeksi, demam, kanker, penyakit hati, penyakit ginjal, radang usus, gagal jantung kongestif, hingga penyakit paru-paru. 

Penurunan nafsu makan akibat masalah perilaku berkaitan dengan rasa cemas, stres, atau takut. Perasaan tersebut dapat muncul akibat hal-hal kecil seperti perubahan rutinitas, kehadiran orang baru, kegiatan bepergian, suara bising, hingga intimidasi dari hewan lain. Umumnya, anjing akan melakukan penyesuaian terhadap hal-hal ini selama 2 hari. Tetapi jika tak kunjung berkurang atau membaik, maka anjing memerlukan penanganan medis.

Pernurunan nafsu makan akibat masalah dengan makanan. Kemungkinan makanan anjing kadaluarsa, anjing bosan dengan jenis makanan yang diberikan, atau mengganti makanan anjing secara tiba-tiba. Penggantian makanan secara tiba-tiba tanpa penyesuaian dapat mengakibatkan nafsu makan berkurang, muntah, atau diare. 

Apa yang harus dilakukan jika anjing kesayangan tidak nafsu makan?

Melansir laman FETCH by Pet MD, untuk membantu anjing dengan kondisi tidak nafsu makan akibat masalah medis Anda memerlukan bantuan tenaga medis. Pemeriksaan oleh dokter hewan perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab secara pasti. 

Jika disebabkan oleh adanya penyakit, maka dokter hewan akan memberikan resep makanan yang telah disesuaikan dengan kondisi kesehatan anjing. Agar kebutuhan nutrisi anjing tetap dapat terpenuhi. 

Namun jika kondisi tidak kunjung membaik kemungkinan dokter hewan akan memberikan obat penambah nafsu makan. Pada kondisi lebih lanjut dokter hewan akan merekomendasikan untuk memberikan makanan cair melalui suntikan makanan atau selang makanan. 

Dokter hewan dari Pet-Care dapat membantu Anda menangani anjing yang kehilangan nafsu makan. Hubungi Call Center Pet-Care untuk mendapatkan layanan dokter hewan tanpa harus keluar rumah.

Penanganan anjing tidak nafsu makan secara mandiri

Penanganan secara mandiri dapat Anda lakukan jika anjing kesayangan tidak nafsu makan karena perubahan perilaku atau kebiasaan yang menimbulkan kecemasan, stres, atau ketakutan pada anjing. Selain menerapkan upaya ini, hindari anjing dari hal-hal yang memicu rasa cemas, stres, atau takut pada anjing.

  • Berikan makan secara teratur, minimal 2 kali sehari.
  • Buatlah waktu makan jadi lebih menyenangkan.
  • Ajak anjing jalan-jalan dahulu sebelum makan.
  • Coba untuk mengubah bentuk wadah makanan.
  • Berikan jenis makanan yang berbeda dari biasanya atau menambahkan sedikit air hangat pada dry food.

Namun, apabila nafsu makan anjing tidak kunjung membaik setelah memberikan upaya penanganan mandiri diatas, sebaiknya kunjungi dokter hewan terdekat atau hubungi layanan Pet-Care panggil dokter hewan ke rumah melalui Call-Center Pet-Care.

Kucing Terjangkit Abses, Bagaimana Pertolongan Pertama yang Efektif dan Aman?

Kucing kesayangan didiagnosa terjangkit abses? Tapi, apa itu abses? Secara sederhana, abses digambarkan sebagai “kantong nanah” yang muncul dalam bentuk pembengkakan di beberapa bagian tubuh. Kantong nanah ini dapat berbentuk besar atau kecil, serta keras atau lembek. 

Berikut ini adalah serba-serbi abses kucing yang telah Pet-Care rangkum. Mulai dari penyebab, gejala, hingga penanganannya. Yuk mari kita simak!

Penyebab Abses pada Kucing

Melansir laman VCA Animal Hospital, penyebab abses pada kucing dapat beragam tapi satu yang paling umum adalah gigitan dari hewan lain. Gigitan ini membawa bakteri ke dalam luka, kemudian infeksi, dan berakhir dengan timbulnya abses. Tidak hanya melalui gigitan, luka akibat benda mati juga dapat menyebabkan infeksi dan abses.

Selain abses pada kulit akibat gigitan dan luka, terdapat beberapa organ tubuh kucing yang sering terjangkit abses. Diantaranya yaitu abses hati yang terjadi akibat penularan infeksi melalui darah, abses akar gigi yang terjadi akibat kerusakan pada gigi, abses paru yang terjadi akibat menghirup benda asing atau pneumonia atau peradangan paru-paru berat, dan abses otak yang terjadi akibat infeksi telinga bagian dalam, infeksi sinus, atau infeksi mulut.

Gejala Abses pada Kucing

Sebelum melakukan pertolongan pertama pada kucing dengan abses, Anda perlu mengetahui tanda-tanda yang terlihat sebagai gejala abses. Berikut ini adalah gejala abses jika terjadi pada jaringan kulit di bagian luar tubuh yang dilansir melalui laman Purina.co.uk.

  • Terjadi pembengkakan yang terlokalisir pada suatu area.
  • Kemerahan disekitar abses.
  • Terasa sakit pada abses.
  • Rambut atau bulu-bulu disekitar abses mengalami kerontokan.
  • Jika abses telah pecah, akan terlihat cairan pada abses yang disertai dengan bau busuk.

Beda lokasi abses, maka berbeda pula gejalanya. Berikut ini adalah gejala abses jika terjadi pada jaringan mulut atau gigi. 

  • Bau mulut
  • Liur terus mengalir (ngiler)
  • Pembengkakan wajah
  • Nafsu makan berkurang
  • Penurunan berat badan
  • Gigi goyang
  • Demam

Jika menemukan gejala lain, segera hubungi dokter hewan terdekat untuk memperoleh penanganan lebih lanjut. Pet-Care menyediakan layanan panggil dokter hewan ke rumah untuk membantu keluhan terkait hewan peliharaan, seperti abses. Cukup hubungi Call Center Pet-Care, Anda dapat terhubung dan menggunakan jasa dokter hewan tanpa perlu keluar rumah.

Pertolongan Pertama pada Kucing yang Terjangkit Abses

Upaya perawatan pada pertolongan pertama perlu dilakukan agar infeksi tidak menyebar ke bagian tubuh atau organ lain. Oleh karena itu, selama masa pengobatan kebersihan kucing perlu dijaga. Berikut adalah beberapa pertolongan pertama dari Wedgewood Pharmacy dapat Anda lakukan sebelum membawa kucing kesayangan ke dokter hewan. 

  • Potong rambut atau bulu-bulu kucing di sekitar abses.
  • Kompres abses dengan kain bersih yang telah direndam pada air hangat.
  • Tidak dianjurkan untuk memberikan alkohol pada bagian abses dan obat abses manusia.

Penanganan lebih lanjut akan dilakukan oleh tenaga ahli yakni dokter hewan berpengalaman. Pet MD memaparkan rangkaian tindakan yang akan diberikan oleh dokter hewan pada area abses.

  • Apabila abses telah mengering, akan dilakukan pembersihan area abses secara menyeluruh.
  • Apabila abses belum mengering, kucing akan diberikan obat bius dan dilanjutkan dengan tindakan operasi sederhana.
  • Pemberian antibiotik
  • Pembersihan dan perawatan lanjutan ketika area abses telah sembuh sesuai dengan instruksi dokter. 

Setelah mendapat penanganan dari dokter hewan, Anda juga perlu memerhatikan perawatan pasca pengobatan dengan selalu menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar tempat tinggal kucing. Masa penyembuhan membutuhkan waktu sekitar 5 sampai 7 hari. Namun, jika selama waktu tersebut abses kucing belum kunjung sembuh sebaiknya segera hubungi dokter hewan terdekat untuk memastikan kondisi kesehatan kucing baik-baik saja.

Tak Perlu Kandang Luas, Inilah 5 Hewan Peliharaan yang Mudah Dirawat!

Memelihara hewan menjadi salah satu cara yang dapat Anda lakukan untuk tetap sehat secara fisik dan mental. Laman CDC (Center for Disease Control and Prevention) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mengungkap beberapa manfaat kesehatan yang diperoleh dari kegiatan memelihara hewan

Salah satu manfaat dari memelihara hewan adalah meningkatkan intensitas berolahraga pemiliknya. Hewan peliharaan seperti anjing, kerap mengajak pemiliknya keluar rumah untuk sekedar berjalan-jalan di pagi maupun sore hari. Secara tidak langsung, kegiatan ini memaksa pemilik hewan untuk berolahraga dan bersosialisasi dengan orang-orang di lingkungan sekitar. 

Berjalan-jalan secara teratur disertai dengan kegiatan bermain bersama hewan peliharaan juga dapat menyehatkan karena kebiasaan ini mampu menurunkan tekanan darah, kadar kolesterol, dan kadar trigliserida. Selain itu, manfaat kesehatan mental yang diperoleh dari memelihara hewan tidak hanya mendorong pemilik untuk bersosialisasi tetapi juga menghindari rasa kesepian hingga depresi. 

Akan tetapi memelihara hewan tidak semudah yang dibayangkan. Beberapa diantara jenis hewan memerlukan tempat tinggal dan penanganan khusus yang sedikit merepotkan. Alih-alih memperoleh manfaat kesehatan, kerepotan memelihara hewan justru dapat menjadi sumber rasa stres. 

Namun Anda tidak perlu khawatir karena masih ada hewan peliharaan yang tidak memerlukan tempat tinggal khusus dan perawatannya masih tergolong dalam kategori mudah. Dilansir dari laman Best Life, berikut adalah beberapa hewan peliharaan yang mudah dirawat dan cocok untuk anak-anak, orang tua hingga para pekerja sibuk sekalipun.

5 Hewan Peliharaan yang Mudah Dirawat

Anjing

Dari segi perawatan tempat tinggal, anjing dikategorikan mudah karena tidak memerlukan tempat tinggal khusus dengan ukuran besar. Anjing merupakan hewan yang mampu untuk tinggal bersama dengan manusia dan bersahabat baik dengan pemiliknya. Namun, anjing tergolong hewan yang membutuhkan banyak kasih sayang dan perhatian lebih. Sehingga lebih cocok untuk dipelihara oleh anak-anak dan orang tua dengan kesibukan harian yang senggang dibandingkan mereka para pekerja yang sibuk.

Salah satu ras anjing yang mudah untuk dirawat adalah anjing pug. Anda tidak perlu repot memotong dan menata bulu-bulu tubuhnya karena selalu pendek dan mudah diatur. Anjing pug tidak memerlukan banyak waktu untuk bermain. Hanya sekitar 30 menit untuk berjalan-jalan dan 10 menit untuk bermain lempar tangkap saja sudah cukup membuat tubuh anjing tetap bugar. Ukuran tubuh anjing pug yang kecil juga memudahkan para pemilik untuk menjaganya selalu bersih.

Kucing

Sebelum memelihara kucing, pertimbangkan jenis kucing dengan perawatan yang mudah disamping tempat tinggalnya. Salah satu jenis kucing dengan perawatan mudah adalah British Shorthair. Melansir Vet Street, kucing dengan jenis ini memiliki kepribadian yang santai dengan bulu-bulu tubuh tidak sepanjang jenis kucing lainnya. Perawatan bulu kucing British Shorthair juga mudah, hanya perlu disikat dua hingga tiga kali seminggu hanya untuk menghilangkan bulu-bulu yang rontok. Serupa dengan anjing, kucing juga mampu hidup dalam satu tempat tinggal yang sama dengan manusia.

Kelinci

Salah satu hewan yang dapat Anda pelihara jika belum mampu berkomitmen untuk memelihara anjing adalah kelinci. Hewan ini termasuk menggemaskan dan tidak memerlukan kasih sayang seintens anjing. Kelinci tetap dapat hidup bebas di rumah maupun apartement karena tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas. Tetapi Anda tetap harus memastikan tempat minum, tempat buang air, dan tempat tidur yang cukup untuk kelinci yang Anda peliharan. Makanan kelinci juga mudah untuk didapatkan, seperti jerami dan roti basi, roti atau apel.

Marmut

Hewan lain dengan perawatan yang mudah adalah marmut. Tergolong ke dalam hewan lucu dan menggemaskan, serta dapat dengan mudah digenggam. Hewan pengerat kecil ini dapat hidup selama lima hingga enam tahun. Selama hidup marmut hanya membutuhkan kebutuhan dasar seperti kandang kecil, tempat tidur, makan dan air. Marmut juga merupakan hewan aktif yang ramah anak.

Hamster

Serupa dengan marmut, hamster juga tergolong ke dalam hewan yang ramah untuk dimainkan anak-anak. Selain menghibur karena tampilannya yang mungil dan menggemaskan, hamster dapat bertahan hidup dengan sendirinya. Namun dengan catatan semua kebutuhan dasar hidupnya terpenuhi. Hamster hanya membutuhkan kandang kecil, air bersih, makanan seperti potongan buah atau sayur, dan roda hamster untuk sarana mereka berolahraga dan bermain.

Untuk saat ini layanan panggil dokter hewan ke rumah dari Pet-Care baru melayanai perawatan, pengobatan, grooming, dan vaksinasi untuk anjing dan kucing saja. Melalui layanan ini, Anda dapat dengan mudah terhubung dengan dokter hewan terdekat tanpa perlu keluar rumah. Cukup hubungi Call Center Pet-Care atau melalui aplikasi Pet-Care.